July 1, 2007

Bab 4

Filed under: novel

EMPAT

Morning Dear

Nanti malam jangan kemana-mana ya

Aku mau ajak kamu dinner

Jam 7 aku jemput

love..

Aira

Kinar gak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya ketika pagi ini ia mendapat bingkisan buket mawar putih + kartu dengan kata-kata manis dari sang pangeran pujaan. Sabtu pagi yang cerah ini, Kinar berdiri di teras rumah, masih dengan daster tidurnya, berkali-kali ia hirup wangi mawar pemberian Aira itu dengan bibir yang tak henti tersenyum.

“Cieh pagi-pagi udah dapet bunga.” Fayaz yang baru selesai jogging keliling kompleks mendekati Kinar kemudian duduk di kursi teras. “Bunga dari siapa Ki? Dari Aira ya?”

Kinar mengangguk cepat lalu ikut duduk di sebelah Fayaz. “Aira romantis banget yaa. Coba lo bayangin, pagi-pagi dia udah ngirimin gue bunga plus ajakan dinner nanti malam. Sweet banget kan?”

Fayaz mengernyitkan kening, heran dengan tingkah Kinar yang dimatanya terlihat ‘’gak banget’. “Alah baru juga dikasih bunga udah kegirangan. Dasar norak.”

“Terserah lo deh. Yang pasti gue teramat sangat bahagia dengan kiriman bunga ini” Kinar mengulum senyum, matanya melirik Fayaz jutek. “Aira itu bisa memperlakukan cewek––memperlakukan gue–– dengan baik. Gak kayak elo yang selalu usil dan nyebelin.”

“Cih! Playboy kampung kayak Aira aja dibangga-banggain.”

“Shut up Faryandra! Udah deh jangan rusak kebahagiaan gue dengan mulut ember lo itu.”

Fayaz tertawa, ekspresi jengkel Kinar yang lucu membuatnya tidak bisa menahan tawanya.

Kinar manyun, kesal dengan kehadiran Fayaz yang kali ini sukses membuat kuncup bahagia di hatinya layu dengan kalimat-kalimat menyebalkan dari mulut embernya yang usil.

Fayaz mencubit pipi Kinar. “Eh jelek gitu aja ngambek. Cemen lo.”

Kinar diam, tidak memberi respon.

“Yaelah Ki lo kayak baru kenal gue aja. Elo kan udah sering jadi korban keusilan gue.”

“Mulut lo perlu disekolahin supaya gak bikin gue marah lagi.”

“Tiap hari mulut gue juga ikut sekolah kok. Masa gue ke sekolah tanpa mulut sih?” Fayaz mulai jayus.

“Gak lucu deh Fay. Udah deh kapan sih gue bisa tahan ngambek ama lo? Fay harusnya lo bersyukur diberi sahabat yang pemaaf, sabar dan berjiwa besar kayak gue.”

Fayaz nyengir. “Kok elo jadi narsis juga kayak gue? Heheheh”

“Hey guys! Waaaah pagi-pagi udah ngumpul bareng nih.” Suara Nadine tiba-tiba terdengar. Kinar dan Fayaz kompak menengok ke arah Nadine yang berdiri di depan pagar.

“Eh Nadine, sini-sini masuk. Gabung bareng kita.”

Nadine ikut bergabung bersama Kinar dan Fayaz. “Kalian kompak banget sih. Sepagi ini aja udah berduaan.”

“Iya doong. Sebagai sahabat yang baik gue pastinya selalu berusaha menjaga kekompakan dengan sobat tersayang gue ini.” tukas Fayaz sambil merangkul Kinar.

Kinar menatap Fayaz dengan satu alis terangkat. Hah? Menjaga kekompakan? Gue gak salah dengar? Jelas-jelas si biang narsis ini baru bikin gue kesal dengan bacot rebeknya. Itu yang namanya menjaga kekompakan? Dasar aneh!

“Lo dari mana Nad? Jogging?”

“Eh? Enggak, tadi gue ikutan nyokap senam pagi di lapangan. Lumayanlah buat seru-seruan.”

“Lo ikutan senam pagi yang bareng ibu-ibu itu?” Fayaz bertanya

Nadine mengangguk. “Iya. Seru loh. Ibu-ibu yang ikutan semuanya semangat 45 banget, gue aja sampai kecapekan ngikutin mereka.”

“Nad, Fay, kalian berdua belum pada sarapan kan? Mau gue buatin roti bakar dan susu cokelat?”
“Mau dooong. Roti bakarnya 2 porsi ya!” Fayaz gak tau diri

“Boleh-boleh. Gak merepotkan kan?” Nadine malu-malu mau.

Kinar bangkit dari kursi. “Gue buatin dulu ya, kalian tunggu di sini.” Kinar masuk ke rumah, meninggalkan Fayaz dan Nadine berdua.

Fayaz melirik Nadine yang tepat duduk dihadapannya. Pagi ini Nadine tampil cute-sporty dengan pink shirt bergambar Donald Duck dipadu dengan celana olahraga warna ungu. Hmm lucu juga!

“Elo baru selesai jogging Fay?” Nadine berinisiatif memulai percakapan.

“He-eh. Biasalah cowok sporty kayak gue pastinya butuh olahraga rutin untuk menjaga tubuh atletis gue ini.” Sikap narsis Fayaz mulai kumat.

Nadine tertawa. “Fay, Fay. Narsis kok dipelihara sih?”

“Abis gue mau pelihara apalagi? Cuma kenarsisan gue yang bisa gue pelihara dan gue budidayakan.”

Tawa Nadine makin keras, detak jantungnya juga kian memburu seiring dengan komunikasi yang terjalin dengan prince charmingnya ini. “Dodol banget sih. Btw sekarang lo gak pernah perform di Jazztix lagi ya?”

“Jazztix? Eh kok lo tau?”

“Tau dong. Beberapa kali gue sempat nonton elo main piano di sana. Gue suka deh dengan permainan piano yang lo bawain. Dan gue cukup kecewa begitu tau kalo elo udah gak perform di Jazztix lagi.”

“Wow! Thanks kalo lo suka. Gue memang keluar dari Jazztix dan posisi gue sebagai pianis di sana udah diganti orang lain. Gue bosan dan capek kerja di sana, mungkin nanti kalo kebosanan gue udah hilang gue akan main di sana lagi.”

Jazztix adalah sebuah cafe & music lounge bagi para pecinta musik jazz yang berlokasi di daerah Senayan. Selama 10 bulan Fayaz menjadi pianis di sana dan tampil tiap Jumat malam. Awalnya Fayaz senang dan enjoy bekerja di cafe milik Ardhya Dewandanu –adik sulung papa- ini. Tapi lambat laun Fayaz bosan dan akhirnya memutuskan untuk keluar.

Nadine tak henti-hentinya tersenyum. Pagi ini ia bahagia sekali. Tanpa Nadine duga, sekarang ia dan Fayaz duduk berhadap-hadapan dan berbincang di suasana pagi yang cerah. Nadina makin bahagia begitu menyadari wajah Fayaz berjarak begitu dekat darinya, membuatnya puas menatap lekat kegantengan Fayaz yang gak pernah luntur.

Fayaz mencoba menahan dirinya -menahan matanya- yang sedari tadi ingin memperhatikan Nadine dengan lebih cermat, mengagumi penampilan gadis ini yang selalu berkilau. Damn! T-shirtnya Nadine ketat banget. Astagfirullah.

“Lo kenapa Fay? Kok keliatannya gelisah gitu?”

Nadine membuyarkan Fayaz yang tengah sibuk dengan imajinasi nakalnya. “Gak papa kok Nad. Duh lo tuh seksi banget sih.”

“Hah?” Nadine bengong

Fayaz gelagapan. Sial! kok gue bisa keceplosan sih? “Ehm maksud gue, donald duck di t-shirts lo itu seksi banget.”

“Hah? Donald duck seksi?” Nadine bingung.

Fayaz makin gelagapan. Arrrrrgh gue kenapa sih? “Hehehehe bukan-bukan. Yang seksi itu elo, bukan donald duck.”

“Gue seksi?” Nadine terlihat surprised.

“Ya. Elo seksi.” Fayaz berkata sambil tersenyum. Udahlah Fay, udah terlanjur gini. Sekalian ajalah blak-blakan.

“Kok tiba-tiba lo bilang gue seksi sih?” Nadine memancing, ingin tau lebih banyak lagi sosok dirinya di mata Fayaz.

Fayaz garuk-garuk kepala, bingung sepenuh jiwa. “Gue salah ngomong ya? Gue bilang begitu karena lo memang seksi, cantik pula. Intinya lo menarik.” Fayaz berusaha jujur.

Kuncup-kuncup bahagia tumbuh di hati Nadine begitu mendengar jawaban Fayaz itu. Hmm.. Fayaz udah mulai flirting! Mudah-mudahan aja Fayaz suka gue.

Nadine mengunci pandangannya ke Fayaz. Mengagumi lekuk kesempurnaan prince charmingnya ini. Matanya langsung segar seketika dengan ‘pemandangan nikmat’ dihadapannya.

Fayaz salah tingkah, merasa tidak nyaman dengan tatapan Nadine yang seakan menelanjangi dirinya.

***

Makan malam romantis bukan lagi impian bagi Kinar

Di malam yang sangat indah ini, salah satu impian kecil Kinar berhasil diwujudkan Aira. Pangeran pujaan Kinar itu malam ini mengajaknya dinner di Scuzza, sebuah restoran bergaya klasik Romawi yang berlokasi di bilangan Senopati. Aira menyiapkan romantic dinner lengkap dengan lilin-lilin yang membuat suasana semakin hangat dan iringan musik klasik yang memabukkan. Perfecto!

Aira menyunggingkan senyum. Ia bahagia melihat cahaya keceriaan di wajah Kinar. “Kamu senyum-senyum terus dari tadi. Ada apa sih?”

“Aku bahagia banget malam ini. Mas, ini candle light dinner pertamaku loh.”

“Kamu serius? Masa sih sebelumnya gak pernah? Gak mungkin dong cewek secantik kamu belum pernah diajak dinner.”

“Beneran. Ini yang pertama, sebelumnya aku gak pernah makan di tempat seformal ini. Aku juga gak terbiasa dengan suasana romantis seperti ini.”

Senyum Aira makin lebar begitu mendengar pengakuan jujur Kinar itu. “Babe sama pacarmu yang dulu kamu gak pernah dinner? Memangnya dulu kamu pacarannya keman aja sih?”

“Kemana ya? Hihihi 2 mantanku bukan cowok romantis sih. Makanya selama pacaran gak pernah ada dinner kayak gini. Dulu sih biasanya aku pergi jalan-jalan ke tempat-tempat yang sama sekali gak romantis. Pergi ke Ancol, ke Monas, nonton di TIM, makan roti bakar Edi, borong buku di Kwitang. Seru ya?”

“Kamu baru 2 kali pacaran?”

Kinar mengangguk. “Iya. Aku memang gak punya banyak pengalaman dengan cowok. Makanya status jomblo aku ini belum juga selesai hehehhe.”

Aira menggenggam tangan Kinar, menautkan jemari tangannya dengan jemari Kinar. “Loh? kata siapa kamu jomblo. Sekarang kan kamu udah punya pacar baru.”

“Pacar?” Kinar murni tidak mengerti.

“Aku ini siapa kamu babe?” Aira bertanya dengan suara lembut yang setengah berbisik, membuat Kinar panas dingin.

Loh kok jadi gini? Walau gue cinta mati sama Aira, status gue dan dia kan belum jelas. Aira memang sering memanggil Kinar dengan sebutan-sebutan khas orang yang telah berpacaran. Aira juga sudah sering bilang sayang ke Kinar. Tapi kan Aira belum nembak gue. Jadi sebenarnya Aira itu statusnya apa?

“Aku ini siapanya Mas Aira?” Kinar bertanya balik.

Aira tersenyum lembut sekali, dikecupnya punggung tangan Kinar lembut. “Kamu itu orang yang paling aku sayang. Kamu itu bidadari aku. Kamu itu gadisku. Kamu itu pacar aku.”

“Aku pacar Mas Aira?”

“Iya. Kenapa? Kamu pasti bingung ya karena aku gak nembak kamu? Say buatku kasih sayang aku ini gak perlu dibuktikan dengan acara penembakan segala. Yang terpenting aku sayang kamu. Kamu juga sayang aku kan?”

Jadi gue dan Aira udah pacaran? Kinar sedikit bingung dengan situasi ini. Sebelumnya dengan Enrico dan Bima proses pacaran Kinar selalu diawali dengan prosesi penembakan. Tapi sekarang Aira malah sudah menganggap Kinar sebagai pacarnya tanpa ada penembakan lebih dulu.

“Iya. Aku juga sayang Mas Aira.” Kinar membalas tatapan lembut Aira dengan senyuman termanisnya.

Yang terpenting Aira sayang gue. Penembakan kan cuma simbol. Akhirnya kita jadian juga, penantian panjang gue akhirnya berujung malam ini.

“Beruntungnya aku bisa jadi pacar kamu.”

“Beruntung?”

Aira mengangguk. “Kamu itu beda dari cewek-cewek lain. Kamu smart, dewasa, mandiri. Intinya kamu sangat istimewa dan aku bersyukur bisa punya pacar yang hebat seperti kamu.”

“Gombal ah.”

Aira tertawa. “Loh kok gombal sih? Itu beneran loh. Kamu itu bidadari aku dan aku akan berusaha menjadi pangeran yang baik buat kamu.”

“Aku juga akan menjadi bidadari yang baik buat Mas Aira.”

***

Fayaz tersenyum. Untuk kedua kalinya ia membaca sms yangbaru dikirim Kinar. Di pesan singkat itu Kinar mengabarkan bahwa malam ini ia telah resmi berpacaran dengan Aira. .Arrrrgghh Kinar akhirnya punya pacar baru. Giliran gue kapan?

Fayaz menelfon Kinar, berharap sahabatnya ini bisa sedikit menularkan kebahagiannya.

Kinar : Hei Fay. Wazzup?

Fayaz : Tau deh yang baru jadian. Suaranya jadi sok manis gini.

Kinar : Oh iya dooong hehhe. Eh lo lagi dimana Fay

Fayaz : Di mobil. Dari tadi muter-muterin Jakarta, gak tau mau kemana. Lo masih bareng Aira?

Kinar : Iya masih. Eh Fay, Aira kirim salam.

Fayaz : Gue gak butuh kiriman salam. Gue butuhnya kiriman duit.

Kinar : Dudul ah. Geblek lo.

Fayaz : Eh yasuwdlah selamat bersenang-senang dengan pacar lo itu. Besok lo harus kasih gue PJ (pajak jadian). Hahaha besok gue akan bikin lo bangkrut Ki.

Kinar : Monyong lo! Hati-hati yah. Nyetirnya pelan-pelan. Jangan lupa pake sit bealt.

Fayaz menutup telfon, matanya kembali lurus ke arah jalan. Malam ini Fayaz seperti orang linglung. Sejak tadi ia cuma muter-muter mengelilingi jalan dengan Audi kesayangannya tanpa ada tujuan yang jelas. Kebingungan Fayaz malam ini dikarenakan malam ini tiba-tiba aja Fayaz kangen bermalam mingguan. Ia mau pacaran lagi. Ia kangen menghabiskan malam minggu bersama seorang gadis yang menjadi pacarnya.

Fayaz menepikan mobilnya. Ia kembali serius dengan ponselnya, mencari sebuah nama yangmungkin bisa membuatnya tidak lagi bingung dan linglung. Pencarian Fayaz berhenti di 1 nama : Nadine

Ragu-ragu akhirnya Fayaz menelfon Nadine.

Fayaz : Bonjour!

Nadine : Fayaz? Hei bonjour monsieur

Fayaz : Gue ganggu ya? Lagi dimana Nad?

Nadine : Enggak kok. Gue lagi di Pratz, nyari novel. Lo?

Fayaz : Gue lagi di jalan, bingung mau kemana. Lo ama siapa di sana?

Nadine : Sendirian

Fayaz : Boleh gue temenin gak?

Nadine : Eh? Sure lo ke sini aja

Fayaz : Okey. Setengah jam lagi gue sampai di sana. See ya!

Setelah menutup telfon Fayaz cepat memacu mobilnya ke Pratz Books. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis.

***

@ Pratz

“Lo suka baca beginian juga?” Fayaz memperhatikan hasil belanja Nadine di Pratz kali ini. 3 novel teenlit, majalah Teen Vouge terbaru dan beberapa buah pulpen warna-warni. Bagi Fayaz 3 novel yang dibeli Nadine adalah bacaan gak penting dengan cerita yang terlalu menya-menye.

Nadine menganguk seraya tersenyum. “Iya. Kenapa? Bacaan gue cemen banget ya?”

Fayaz ikut tersenyum. “Gak kok. Cewek-cewek kan memang suka baca teenlit. Kinar dan Ririe juga sering baca kok.”

Fayaz memilih untuk berbicara aman. Untuk kali ini ia berusaha menjaga mulut bawelnya agar tidak mengeluarkan kata-kata usil. Dan untuk kali ini juga, Fayaz ingin terlihat sebagai cowok yang oke di mata Nadine. Cukuplah cuma di depan Kinar Fayaz hadir sebagai sosok cowok slengean dengan image pecicilan.

Malam ini akhirnya Fayaz mengakhiri kebingungannya dengan mengarahkan mobilnya ke daerah Pondok Indah, lebih tepatnya lagi ke Pratz, menyusul Nadine yang malam ini menghabiskan waktunya untuk membeli bacaan baru sebagai tambahan koleksi perpustakaan mini di rumahnya. Setelah tadi menemani Nadine memilih buku, kini Fayaz dan Nadine duduk bareng di Pratz Coffe, coffe shop mungil yang juga terletak di gedung Pratz Books. Mereka berdua mengobrol santai dengan ditemani Ice Chocolate dan Tiramisu andalan Pratz Coffe.

“Fay angin apa yang membawa lo ke sini?” Nadine menatap Fayaz penuh selidik. Sejujurnya ia penasaran sekali, motif apa yang membuat Fayaz malam ini ‘berani’ menghampirinya di Pratz. Buat apa Fayaz ke sini? Apa dia mulai tertarik dengan gue?

Fayaz menyeruput Ice Chocolatenya. Masa sih gue harus ngaku kalo gue kebingungan karena gak punya pacar sampai akhirnya nyasar ke sini? Gila aja kalo gue ngomong begitu! “Angin apa ya? Mungkin angin mala untuk lelaki kesepian ahahaha.”

“Lelaki kesepian? Memangnya elo kesepian?”

Shoot! Gue salah ngomong. “Menurut lo gimana?” Fayaz cari aman dengan balik bertanya.

“Alah palingan elo kesepian karena gak punya pacar. Ya kan?”

Anjrit! Jangan-jangan Nadine punya bakat jadi cenayang? Kok tebakannya bisa pas gitu sih? “Yeah begitulah nasip jadi jomblo.”

Nadine nyengir, ia senang dengan kejujuran Fayaz. “Samalah kayak gue. Selalu sepi sendiri di malam minggu. Gue tau jarang orang yang pacaran di toko buku, makanya gue ke sini karena gue yakin di sini gue gak akan iri melihat orang-orang yang lagi pacaran hehehe.”

Fayaz tergelak, tidak menyangka dengan ucapan natural Nadine itu. Nih cewek kok semakin menyilaukan ya? Kalo gini ceritanya gue bakalan jatuh cinta nih! Wajar banget kalo gue kepincut dengan cewek seoke Nadine.

Fayaz tidak menampik, fisik nadine yang oke memang begitu terlihat menarik di matanya. Tapi ia menjadi lebih tertarik dengan kepribadian Nadine yang ternyata tidak kalah oke menawan dengan fisiknya.

Sejak dulu Fayaz memang selalu sukses menggaet cewek-cewek cantik untuk menjadi pacarnya. Tapi berdasarkan pengalaman pribadinya dengan 4 gadis cantik yang pernah dipacarinya, gak semua gadis bermuka cantik dan terlihat mempesona memiliki tabiat yang juga baik. Kadang kecantikan fisiknya tidak dibarengi dengan kecantikan sifat dan prilakunya.

Sekarang Fayaz ingin mencoba –menantang dirinya- untuk mencari cewek dengan paduan fisik dan sikap yang sama-sama cantik. Dan sepertinya Nadine layak menjadi salah satu kandidatnya.

“Fay, Kinar jadi ngedate ama Aira?”

“Jadi. Eh mereka baru aja jadian tuh.” Fayaz berkata datar. Ia masih gak rela Kinar ‘melangkahi’ dirinya dan lebih dulu punya pacar baru.

Nadine surprised mendengar kabar bahagia ini. “Wow senangnya Kinar udah punya pacar baru. Elo kenal cowoknya Kinar gak? Orangnya gimana sih? Katanya Kinar Aira itu super duper ganteng.”

Fayaz mengerang. “Aaah Kinar hiperbola banget. Aira tuh gak segitu gantengnya kok. Tampang dan gayanya khas cowok-cowok metroseksual yang selalu tampil dandy. Gue gak mengenal baik sosok Aira, kalo boleh jujur sih gue gak terlalu suka ama Aira, gue gak nyambung ngomong ama cowok sejenis Aira.”

“Cowok sejenis Aira? Maksudnya?”

“Cowok-cowok sok romantis yang selalu gombal dengan ngomong manis dan ngirimin cewek bunga. Gue heran kok bisa-bisanya Kinar jadian sama Aira, padahal Kinar pernah bilang kalo dia gak suka cowok romantis.”

Nadine tersenyum. “Udahlah Fay mungkin emang udah jalannya Kinar dan Aira jadian. Mudah-mudahan aja Aira bisa jadi pacar yang baik buat Kinar.”

I hope so.”

Nadine menyendok tiramisunya. Mata cokelatnya sesekali melirik ke arah Fayaz. Paket wajah ganteng mirip Alex Pettyfer, sikap slengean dengan image bad boy yang seksi dan senyum maut yang begitu memikat membuat sosok Fayaz terlihat sangat menarik. Fakta bahwa Fayaz jomblo dan sedang mencari pacar membuat Nadine kian gencar menebarkan pesona demi untuk memikatnya. Terlebih Kinar sudah memberi Nadiine ‘daftar riwayat hidup’ Fayaz yang berisikan profil Fayaz lengkap dengan hobi, hal-hal favorit, kisah cinta dengan 4 mantan pacarnya dan juga tipe cewek yang disuka. Komplet deh pokoknya!

“Nad abis sini mau kemana?”

Nadine mengangkat bahu. “Belum tau. Belum ada planning.

“Mau nonton gak?”

Wow kayaknya prospek hubungan gue dan Fayaz bakalan bagus nih. “Boleh-boleh tapi lo yang bayarin. Gimana?”

Fayaz nyengir. “Iya-iya. Apa sih yang gak gue kasih buat lo? Heheheh.”

***

June 17, 2007

Bab 3

Filed under: novel

TIGA




Malam ini adalah malam minggu yang paling membahagiakan untuk Kinar. Di malam yang indah ini, untuk pertama kalinya ia dan Aira pergi bermalam minggu layaknya sepasang kekasih. Setelah tadi nonton di 21 Setiabudi, kini mereka berdua sedang makan malam di Empire Grill yang terletak di Menara Imperium.


“Nar, makasih yah malam ini udah mau aku ajak pergi.” Aira berkata lembut, matanya lekat menatap Kinar yang malam ini tampak sangat cantik.


“Harusnya aku yang berterimakasih karena Mas Aira mau repot-repot mengajak aku pergi.”


“Siapa yang repot? Gak akan ada kata repot untuk kamu.” Lagi-lagi Aira berkata dengan intonasi lembut yang memabukkan. “Sekolahmu gimana? Lancar-lancar aja kan?”


Kinar mengangguk cepat. Matanya berbinar bahagia dan ’segar’ melihat penampilan simple tapi fashionable-nya Aira yang kali ini memakai white shirts + black vest + belel jeans + white Adidas shoes. “Belakangan ini aku sibuk banget. Sibuk belajar karena 2 minggu lagi sudah ulangan blok. Sibuk bareng tim OSIS menyiapkan pensi an juga sibuk di kelas persiapan Olimpiade akuntansi. Capek sih tapi seru banget.”


“Olimpiade akuntansi?”


“Iya. Kenapa? Heran ya cewek sebodoh aku ikutan olimpiade?”


Aira tertawa. “Hei, gak ada cewek bodoh yang bisa ikut olimpiade akuntansi. Hanya orang pintar seperti kamu yang layak dan mampu ikut olimpiade macam itu.”


“Aku hoki bisa lolos seleksi untuk mewakili sekolah. Mas, aku gak sepintar yang orang-orang bayangkan.”


“Kata siapa? Buatku seorang Kinar gak cuma cerdas, dia juga dewasa, hebat dan berfikiran maju.”


Otomatis pipi Kinar memerah. Entah kenapa setiap kata yang dilisankan Aira selalu mampu membuahkan percikan bahagia yang menyenangkan.


“Say nanti kuliah jadi ambil ilmu komunikasi? Masih mau jadi jurnalis?”


“Duuuh aku juga bingung. Akhir-akhir ini aku malah bingung mau milih ilmu komunikasi, sastra Inggris atau filsafat. Tapi yang pasti aku masih mau banget jadi jurnalis, penulis dan editor in chief sebuah majalah.”


“Ckckck banyak banget. Aku yakin seyakin-yakinnya kamu pasti bisa meraih semua cita-citamu itu. Pasti.”


“Ow! Makasih Mas. Aku juga berharap begitu. Kuliah Mas gimana? Baik-baik kan?”


Aira mengerang, ia enggan membicarakan kuliah di tengah suasana dan atmosfer indah bersama Kinar. Baginya kuliah adalah subyek pembicaraan yang paling anti untuk dibicarakan. “Kuliah? Begitulah, gak ada sesuatu yang spesial di kampus Atma tercinta.”


Kinar bisa mengerti keengganan Aira untuk membicarakan kuliahnya dan ia cepat mengganti topik pembicaraan. “Btw katanya tahun ini Pratz mau buka cabang di daerah Cikini. Benar Mas?”


“Katanya sih begitu. Lokasinya gak begitu jauh dari Taman Ismail Marzuki. Kata nyokap mudah-mudahan khir tahun ini Pratz Cikini mulai dibuka.”


“Dekat TIM? Waaah strategis sekali tempatnya. Pasti seru deh kalau nanti aku pergi ke TIM dan bisa sekaligus mampir ke rumah kedua Pratz.”


Aira menyeruput minumannya. “Kamu suka ke TIM?”


“Suka banget. Aku hobi nonton di Kineforum, nonton pertunjukkan di Teater Kecil, melihat bintang-bintang di Planetarium. TIM tuh surga banget buat aku.”


“Jadi kamu lebih suka ke TIM daripada ke mall?”


“Yap! Biasanya aku ke mall cuma untuk nonton di 21 dan belanja. Aku bukan tipikal cewek yang hobi nongkrong lama-lama di mall. Biasanya aku juga gak pernah belanja terlalu lama. Aku ini simpel dan ringkas, aku gak suka muter-muter di mall untuk sesuatu yang gak pasti.”


Aira manggut-manggut. “Jarang loh remaja cewek yang suka ke tempat-tempat nyeni kayak TIM.” manik mata Aira menyiratkan kekagumannya pada Kinar. “Kamu emang bukan cewek SMA kebanyakan. Kamu beda.”


“Aku gak pernah bermaksud menjadi beda. Ini cuma masalah selera kok. Aku prefer ke TIM karena aku suka seni. Aku gak suka keramaian. Aku juga gak suka suasana metropolis bin hedonis yang ada di mall.”


“Wow aku baru tau kalau seorang Kinara gak suka gaya hidup metropolis.”


Kinar memperhatikan seperempat porsi nasi gorengnya yang masih tersisa di piring. “Bukannya gak suka. Tapi aku dan keluargaku memang lebih memilih hidup sederhana, apa adanya dan tidak bergemerlapan. Ayah dan Ibu selalu ngajarin aku berhemat dan hidup tanpa berlebih-lebihan.”


“Masing-masing orang memang beda. Dari kecil aku justru terbiasa dengan hidup metropolis bin hedonis yang kamu bilang.”


Aira itu cowok tajir dengan kehidupan metropolis di lingkungan para sosialita Jakarta.


Yang Kinar tau, hidup Aira sangat glamor dan mewah. Ayahnya seorang pengusaha di bidang real estate. Ibunya seorang wanita aktif yang juga memiliki bisnis berupa book store, salon dan lounge dengan pergaulan yang sangat luas. Gaya hidup Ibunya menurun pada Aira yang juga bergaul dengan kalangan sosialita.


Kinar sering melihat foto Aira terpampang di majalah-majalah lifestyle ibu kota. Teman-teman Aira juga gak sembarangan. Mulai dari model, selebritis, partygoers, socialite, bahkan anak pejabat! Aira juga mengenal baik Mutia Dyaningtyas yang merupakan calon kakak ipar Kinar.


“Udahlah gak usah ngomongin lifestyle. Masing-masing punya gaya yang beda kan?” Aira memilih untuk menghentikan pembicaraan ini. “Cantik, makannya udah selesai belum? Pulang yuk, udah malam. Aku gak mau kamu pulang terlalu larut.”


“Udah kok. Yuk pulang. Aku juga udah mulai ngantuk. Mas juga mau langsung pulang kan?”


“Enggaklah. Setelah mengantar kamu ke pulang palingan aku ke rumah cuma buat ganti baju, lalu cabut ke Embassy dan ngumpul bareng teman-teman.”


“Huh dasar AGJ!”




***


“Fayaz tuh ganteng banget yaa.” Nadine berucap dengan nada penuh kekaguman, matanya terkunci ke sosok Fayaz yang sedang main bola bareng cowok-cowok lain di lapangan tengah kompleks Cibubur Kenanga.


Kinar yang duduk tepat di sebelah Nadine mengernyitkan kening begitu mendengar ucapan Miss Stylish ini. “Eh? Barusan lo ngomong apa? Gue gak salah dengar kan?”


Nadine tersenyum dengan paras ceria. Sore ini ia terlihat sangat fresh dengan pink shirts yang dilapisi white cardigan, short jeans dan sandal jepit warna kuning ngejreng. “Say tetangga lo yang ganteng itu selalu bikin mata gue berbinar cerah. Astagfirullah Hal Adzim.”


“Jangan bilang elo suka si narsis gila itu.”


Nadine tersenyum lagi. “Kinar sayang, siapa sih cewek yang gak suka sama cowok cute dengan muka mirip Alex Pettyfer kayak Fayaz?”


“Hah? Alex Pettyfer? Siapa tuh?”


“Alex Pettyfer itu salah satu gorgeous actor di Hollywood. Memang sih namanya belum terlalu beken, tapi asli deh dia ganteng berat! Nah Fayaz tuh gak jauh bedalah ama Mr Pettyfer itu.”


Kinar manggut-manggut lalu menengok ke arah Fayaz.


Seperti biasa Fayaz tampak begitu bersemangat. Dengan tubuh bermandikan peluh ia berlari mengejar bola dan (seperti biasa) selalu menjadi yang terbaik dengan banyaknya bola yang berhasil ia loloskan ke gawang lawan. Harus diakui, Fayaz memang sebuah ‘pemandangan indah’ diantara cowok-cowok kompleks lainnya yang cupu-cupu.


“Nar gue boleh nanya sesuatu gak?”


“Apa?”


“Um..” Nadine terlihat sedikit ragu. “Elo kan udah sahabatan dengan Fayaz dari kecil. Hmm elo pasti tau dong tipe cewek yang disukai Fayaz.” Nadine berkata dengan volume suara yang kecil banget, suara lembutnya terdengar seperti bisikan yang menggelitik di telinga Kinar.


“Eh? Lo serius? Lo beneran suka Fayaz?” tanya Kinar dengan suara yang cukup kencang, membuat Fayaz dan cowok-cowok lainnya menoleh.


Nadine panik. Cepat ia membekap mulut Kinar. “Duuuh Nar jangan teriak gitu dong. Nanti kalo Fayaz dengar gimana?”


Kinar nyengir lucu. “Maaf Nad gue kelepasan. Asli deh gue kaget banget. Ihihihi ternyata elo juga sukses terjerat magnet pemikatnya Si Kucrut itu. Ya oloh.”


Nadine tersenyum malu-malu, matanya masih menatapi Fayaz yang semakin bersemangat membobol gawang lawan. “Abis mau gimana lagi? Nar asal lo tau yah, gue tuh udah suka Fayaz sejak gue pindah ke kompleks ini, dua tahun lalu.”


Nadine mengulum senyum, fikirannya membayang ke waktu 2 tahun lalu, saat ia baru pindah ke kompleks Cibubur Kenanga. Saat itu secara tidak sengaja Nadine melihat sosok cowok ganteng sedang duduk sendirian di taman kompleks. Sejak pertama kali melihat si ganteng ini ––yang akhirnya terdeteksi bernama Fayaz­ –– Nadine langsung menyukainya. Terlebih lagi saat Nadine akhirnya berteman dengan Fayaz dan mengenal kepribadiannya yang menyenangkan, ia makin jatuh hati dengan kembaran Alex Pettyfer ini.


“Udah 2 tahun? Hah kok bisa sih? Kenapa baru cerita sekarang Nad? Kalo gue tau elo suka Fayaz, udah dari dulu deh gue comblangin kalian berdua.”


“Gue malu Nar. Gue gak yakin Fayaz mau ama cewek kayak gue. Naah makanya tadi gue tanya ke elo, kayak apa sih tipe cewek yang disuka Fayaz? Gue bisa lolos seleksi gak? Hehehe.”


Fayaz dan Nadine? Hmm keliatannya cocok! Waah pasti Fayaz senang kalo Nadine yang cantik dan always stunning ini jadi pacarnya. “Gue yakin elo lolos seleksi. Nadine, lo cantik, berpenampilan oke, pinter, baik. Pastilah Fayaz suka.”


Tipe cewek Fayaz?


Setau Kinar sih Fayaz gak pernah mempunyai patokan tersendiri untuk mencari pacar. Keempat mantan pacarnya mempunyai sifat yang beda-beda tapi kesemuanya memilik 1 kesamaan = berwajah cantik.


* Fayaz’s Girls


1. Nena = pacar pertama kelas 2 SMP

  • Cantik, imut-imut, lucu kayak anak kecil, lemot, manja

  • Lama pacaran = 1 bulan 2 hari

  • Pengalaman berkesan = dengan pacar pertamanya ini Fayaz sempat sok-sok romantis dengan mengajak Nena dinner di Cafe Wien.


2. Aulia = pacar kedua kelas 3 SMP

  • Cantik banget, Finalis Gadis Sampul, sangat disiplin, cerewet

  • Lama pacaran = 6 bulan 3 minggu

  • Pengalaman berkesan = first kiss Fayaz nih! Gelar bibir perjaka Fayaz langsung tercabut saat Fayaz mencium Aulia di PIM, tepat setelah mereka merayakan 2 bulan jadian.


3. Billya = pacar ketiga kelas 1 SMA

  • Cantik, konyol, suka becanda, sedikit misterius

  • Lama pacaran = 3 bulan 3 minggu 3 hari

  • Pengalaman berkesan = Fayaz cuma dijadikan obyek pelampiasan Billya yang begitu terobsesi dengan angka 3


4. Samira = pacar keempat kelas 1 SMA

  • Cantik, punya body yang oke berat, gaul abis

  • Lama pacaran = 2 bulan 3 minggu

  • Pengalaman berkesan = Fayaz sempat adu jotos dengan Edo (mantan pacar Samira) karena Edo masih suka Samira dan gak rela mantan pacarnya itu jadian dengan Fayaz.


“So beneran nih elo mau bantu gue?”


Kinar mengangguk. “Iya dong. Tenang aja Say gue pasti akan bantu elo.”


Nadine tersenyum sumringah sambil memeluk Kinar. “Thanks Nar, mudah-mudahan aja gue dan Fayaz bisa jadian heheh.”


“Eh cewek-cewek lagi ngobrolin apa sih?”


Gak jelas kapan datangnya tiba-tiba Fayaz udah ada di belakang Kinar dan Nadine. Wajah gantengnya terlihat kemerahan, bermandikan peluh. Fayaz meneguk Aqua lalu duduk di sebelah Nadine.


“Ada deh! Mau tau aja.” Kinar menyapukan pandangannya ke lapangan kompleks yang kini telah sepi. “Fay cowok-cowok lainnya mana? Udah pulang duluan?”


“He-eh. Katanya sih pada mau nonton di Senayan City.” Fayaz melirik Nadine. “Hei Miss Nadine kok diem aja? Sariawan ya?”


Nadine tersenyum grogi. “Hei Fay. Sariawan? Engga kok heheh.”


“Nad, cewek-cewek Tarq apa kabar? Pasti makin cantik-cantik dan kece-kece deh.”


“Iya dooong. Cewek-cewek Tarakanita kan selalu cantik, kece dan oke sepanjang waktu. Nih salah satu contohnya sedang duduk disamping lo.”


Fayaz tergelak, lucu melihat gaya kenes miss stylish ini. “Ki, pulang yuk! Udah sore nih. Gue gerah banget, mau mandi.” Fayaz bangkit dari kursi, bersiap pulang. “Nad, gue cabut duluan ya. Eh jangan lupa kirimin salam gue buat semua cewek-cewek Tarq yang always kece, heheheh. Dah!” Fayaz balik badan, lalu berjalan meninggalkan lapangan kompleks.


“Nad gue pulang dulu yah. Kira-kira kapan nih misi matchmaking kita mau dimulai?”


“Terserah elo deh. Lebih cepat pastinya lebih baik.”


“Yasuw, elo tunggu aja kabar dari gue. Ntar gue sms elo deh.”


Nadine mengangguk dengan senyum dikulum, mata indahnya lekat menatapi punggung Fayaz yang semakin menjauh dari pandangannya.




***


“Tadi ngobrol apa aja sama Nadine?”


Malam ini Kinar main ke rumah Fayaz karena tiba-tiba Fayaz menelfon dan meminta Kinar main ke rumahnya buat menemaninya yang malam ini sendirian di rumah. Awalnya sih Kinar ogah menemani Fayaz, secara dia juga punya banyak banget PR yang harus dikerjakan, tapi toh akhirnya Kinar datang juga ke rumah Fayaz denganl membawa setumpuk Prnya.


“Ada aja. Girls talk, elo gak boleh tau.” jawab Kinar singkat, ia tetap serius mengerjakan PR Akuntansi.


Fayaz yang duduk di samping Kinar ––sambil mencari profil sastrawan untuk tugas bahasa Indonesia di internet–– langsung manyun begitu mendengar jawaban Kinar. “Alah ama gue aja pake sok rahasia segala. Norak lo.”


“Ih biarin aja. Pokoknya gue gak akan cerita ke elo.”


“Tau ah. Terserah elo deh.” Fayaz (sok) ngambek


Kinar nyengir lalu menoyor kepala Fayaz. “Deuu gitu aja ngambek. Eh Nyet lo dan nyokap udah gak pernah berantem lagi kan? Kalian udah akur kan?”


“Heh dodol, ngapain sih lo tiba-tiba ngomongin Emak gue? Gak penting deh.”


Kinar tidak sependapat. “Justru ini penting. Sebagai sahabat terbaik lo yang udah menemani lo mengarungi lembah kehidupan yang fana ini gue tuh wajib menanyakan hal maha penting ini.”


Fayaz ngakak. “Cih bahasa lo! Gaya bener. Kinar sayang, berantem sama nyokap tuh udah jadi makanan sehari-hari buat gue. Kayaknya hidup gue gak komplet kalo belum adu mulut dengan Nyonya Frida Indriati.”


“Ya ampun Fay gak bosen berantem terus sama nyokap? Gak baik loh kalo keseringan berantem.”


“Sekarang gue tanya ama lo, siapa sih orang yang mau berantem terus dengan nyokapnya? Tiap hari pula. Gak ada kan? Nah gue juga gitu. Gue gak mau berantem terus sama nyokap, tapi nyatanya situasi dan kondisi antar gue dan nyokap selalu gak bagus dan akhirnya membuat gw dan dia selalu ribut.”


“Fay kalo udah tau sikonnya gak baik, seharusya elo bisa nahan diri, kontrol emosi, bukannya malah melawan nyokap. Biarinlah dia mau ngomong apa.”


Fayaz tidak sependapat. “Gak bisa gitu dong Ki. Gue gak bisa gitu aja nerima semua omongan nyokap, apalagi kalo dia udah mulai melarang gue ini itu dan berasa dia orang paling benar sedunia! Ki, ini masalah prinsip dan gue gak mau seorang Frida Indriati menggugat prinsip gue hanya karena status dia sebagai nyokap gue.”


Kinar menutup buku Prnya, rasanya obrolan ini harus dibicarakan lebih serius. “Fay untuk saat-saat tertentu gak papalah elo berkompromi dengan prinsip lo. Kadang gue juga suka mengalah dan mengesampingkan prinsip gue untuk beberapa hal penting.”


“Buat gue nyokap gak penting dan gue gak mau prinsip gue dikalahin segala otoritas yang dibuat nyokap.” Fayaz bangkit dari duduknya. “Gue ke dapur dulu yah. Mau ambil makanan.”


Kinar mengangguk. Fayaz lekas berjalan ke dapur.


Masalah keluarga Fayaz memang besar banget. Orangtua Fayaz adu selingkuh, bercerai lalu berebut hak asuk anak dan sekarang Fayaz menjadi hilang respek ke orangtuanya. Fayaz jarang cerita tentang keluarganya, pasti Kinar dulu yang harus bertanya dan memaksa Fayaz untuk cerita. Justru malah Ririe yang cukup sering curhat ke Kinar dan menceritakan masalah di keluarganya.


“Ki, Kei dan Muti masih pacaran gak sih?” Fayaz sudah kembali dari dapur dan membawa sekaleng cokelat dan dua kotak jus jeruk.


Kinar menerima jus jeruk dari Fayaz. “Masih. Mereka tuh cocok banget yah. Lovely couple abis deh.”


“Yeah i know. Kei dan Muti emang cocok banget. Bikin gue iri aja.”


“Iri?”


Fayaz meminum jus jeruknya. “Iya. Iri. Abang lo beruntung banget bisa punya cewek secantik Mutiara Dyaningtyas, selebritis kondang yang cantiknya gak kalah dengan Dian Sastro.”


“Please deh Fay. Selama ini lo juga selalu beruntung dengan pacar-pacar lo yang dulu. Mereka semua kan cantik-cantik.”


“Tetap aja gue iri. Apalagi sekarang gue jomblo, makin menjadi-jadi deh iri hati gue ini.”


Kinar langsung nyengir, teringat dengan misi matchmakingnya untuk Nadine dan Fayaz. “Eh gue punya kenalan yang oke nih. Anaknya cantik, lucu, modis banget, pintar, baik, dan mungkin dia cocok sama lo.”


Muka Fayaz mendadak sumringah. “Siapa tuh cewek? Gue kenal gak?”


“Lo kenal kok, dia kan tinggal di kompleks ini juga.”


“Tinggal di kompleks ini juga? Siapa? Yang pasti cewek itu bukan elo kan?”


“Bukanlah! Cewek itu Nadine Pramandani, gadis Tarakanita yang selalu kece itu.”


Fayaz mengangkat sebelah alisnya. “Nadine? Elo mau jodohin gue ama dia?”


“Enggak kok, gue cuma bilang mungkin elo dan Nadine cocok. Lo pasti bisa menilai sendiri betapa okenya Nadine. Dia gak kalah doong dengan Nadine Chandrawinata?”


Fayaz diam. Gak bereaksi. Ia bingung mau ngomong apa, ia juga bigung dengan sikap Kinar yang tiba-tiba ‘nyodorin’ Nadine. Fayaz gak bisa bohong, sosok Nadine memang menairk dan layak banget buat dijadikan pacar. Tapi sampai sekarang hubungan Fayaz dan Nadine datar-datar aja, mereka tidak terlalu dekat. Hmm.. mungkin perlu penjajakan lebih lanjut untuk mengenal sosok Nadine?


“Kok elo tiba-tiba ngomong gini Ki? Sekarang hini deh, memangnya Nadine suka gue? Memangnya Nadine mau jalan ama gue?”


“Lo gak akan tau jawabannya kalo elo gak mau nyoba. Elo harus mulai penjajakan dulu dong Fay. Sobh, lo gak usah khawatir, sebagai sahabat yang baik gue pasti akan bantuin elo untuk dekat dengan Nadine supaya lo bisa merasakan kembali nikmatnya memadu kasih.”


Fayaz nyengir. “Bodo ah. Terserah lo aja.”




***

June 13, 2007

Bab 2

Filed under: novel


DUA


 

"Udah dong Nyet jangan kebanyakan senyum. Eneg gue ngeliatnya."

"Bawel! Lo kok gak bisa banget sih liat gue seneng?"

"Loh? kok elo jadi marah?"

"Ya iyalah gue marah! Bete gue dibawelin terus sama lo."

Sore itu lagi-lagi Kinar dan Fayaz adu mulut. Awalnya sih Fayaz sengaja main ke seberang rumahnya untuk cerita-cerita dengan Kinar. Tapi ujung-ujungnya mereka malah berantem dan Kinar ninggalin Fayaz sendirian di teras rumahnya.

Fayaz cepat menyusul Kinar yang masuk ke rumah dan berjalan ke dapur. "Duh kok elo ninggalin gue sih? Tega banget."

Kinar diam, ia membuka kulkas dan mengambil minuman.

"Yaelah Kinara sahabatku tercinta, jangan diam gitu dong. Gue kan ke sini buat dengerin cerita lo. Ayo dong cerita, katanya mau cerita. Pasti cerita soal Aira ya?"

Mendengar nama Aira disebut, Kinar mendadak tersenyum. "Makanya lo jangan rese! Capek tau punya sahabat rebek kayak lo."

Fayaz ikut tersenyum, dirangkulnya Kinar brotherly. "Heheh, ayo sini-sini cerita. Semalam gimana? Cieeeh yang pulang diantar cowok pujaan hati." Fayaz duduk di kursi, Kinar ikut duduk disebelahnya.

"Sumpah gue makin cinta Aira. Dari hari ke hari dia makin oke aja."

Fayaz menatap Kinar. "Ki lo tau gak, gue masih heran elo bisa suka ama cowok 22 tahun kayak Aira yang lebih tua 5 tahun dari lo."

Kinar meneguk minumannya. "Memang kenapa? Beda 5 tahun itu ideal untuk membina sebuah hubungan yang baik. Ya kan? Ya doong."

"Membina sebuah hubungan? Alah gaya lo!" Fayaz menoyor kepala Kinar. "Yang bikin gue heran, gak biasanya elo suka cowok sejenis Aira."

"Cowok kayak Aira? Maksudnya?"

Fayaz mengambil nafas sejenak sebelum berbicara. "Ki, pertama Aira itu udah 22 tahun. Kedua Aira itu ––keliatannya –– bukan cowok cerdas. Ketiga Aira itu tipikal cowok gaul dengan pergaulan gemerlapya yang pasti gak elo banget. Dan keempat gue yakin Aira itu cowok romantis."

"Loh? Memang kenapa?"

"Ini tuh gak kayak biasanya Ki. Pertama elo pernah bilang gak mau punya pacar yang perbedaan umurnya sama lo lebih dari tiga tahun. Kedua elo selalu suka cowok smart. Ketiga elo gak suka cowok gaul. Dan keempat elo benci cowok romantis."

Kinar menatap Fayaz penuh keheranan. Gak menyangka Fayaz akan berkata demikian. "Gue salah? Aneh kalo sekarang gue suka Aira?"

Fayaz menggeleng. "Gak salah. Gue cuma heran aja, gak biasanya elo mau pacaran dengan cwok yang beda dari tipe pacar-pacar lo sebelumnya."

"Aira bukan pacar gue."

"At least elo suka dia dan mau dia jadi pacar lo kan?"

Kinar diam. Ia lebih memilih untuk menjawab di dalam hati saja. Fayaz benar, Aira memang beda sekali dari cowok-cowok lain yang pernah menjadi pacar Kinar atau sekedar menjadi cowok yang Kinar suka.

Pacar pertama Kinar namanya Enrico. Kinar kepincut Enrico karena cowok ini sangat cerdas tapi pemalu dan gak banyak tingkah. Pacar kedua Kinar, Bima, si cowok cuek yang punya otak encer dan sama sekali gak romantis. Deretan cowok-cowok yang disukai Kinar kebanyakan cowok pintar yang bukan anak gaul dan cenderung cuek. Kalau melihat ciri-ciri itu otomatis Aira gak masuk hitungan!

Aira yang teramat sangat gaul, perhatian banget dan romantis. Kinar tidak pernah menjudge Aira bodoh, tapi pada kenyataannya cowok ini memang gak pintar, kuliahnya yang sudah mengulang dua kali karena IPK yang kurang mungkin bisa dijadikan patokan untuk menilai kualitas otak Aira.

"Ya elah si monyet kacrut ini lagi. Lo gak bosen main ke sini mulu?" Kei ––abang Kinar –– keluar dari kamar dan menggeplak bahu Fayaz.

Fayaz nyengir. "Gue gak akan pernah bosen main disini. Lagipula adik lo yang cantik ini gak bisa hidup tanpa gue Kei."

"Tai. Gaya lo!" Kei mengambil sekaleng Pepsi dari lemari es dan langsung meminumnya. Pandangan Kei beralih ke Kinar. "Dek, Ibu belum pulang?"

"Belum Mas, tadi sih Ibu telfon katanya mau belanja dulu di Carefour dan pulang agak malam. Mas Kei, entar bentuin aku masak buat makan malam ya. Okey?"

"Sip. Eh kunyuk pulang gih. Bosen gue ngeliat muke lo." Kei mengusir Fayaz.

"Gak ah. Gue mau disini aja. Ikutan masak dan makan malam disini."

Kei menoyor kepala Fayaz. "Dasar kucrut gak tau diri. Amit-amit gue punya tetangga kayak lo."

***

 

@ Starbucks Citos

Fayaz duduk sendirian di salah sati kursi bagian luar kedai kopi ini sambil menikmati segelas Frapuccino Caramel favorinya. Ia sendirian, duduk, minum dan ngeliatin orang yang mondar-mandir di Citos malam ini. Tadinya Fayaz sempat mengajak Kinar, tapi sobat lengketnya yang gak suka ke mall itu serta merta menolah ajakannya. Jadilah sekarang Fayaz duduk sendirian, cengo kayak orang bego.

Faryandra Azhar a.k.a Fayaz adalah seorang pemuda 18 tahun, kelas XI IPA di sebuah SMA negeri di daerah Jakarta Selatan. Hampir semua orang yang mengenalnya berpendapat bahwa Fayaz itu konyol, suka becanda, rame dan jarang bisa serius. Gak banyak yang mengetahui kalau cowok ganteng ini memiliki sifat melankolis dan sangat rapuh saat bersangkutan dengan masalah keluarganya.

Cuma Kinar beserta keluarganya yang tau masa-masa rapuh Fayaz 1 tahun lalu saat Papa dan Mama bercerai dan bertengkar hebat dalam membagi hak asuh Fayaz dan Ririe ––adik semata wayang Fayaz yang duduk di kelas 2 SMP –– Walau pada akhirnya hak asuh anak dimenangkan Mama dan Papa memilih untuk tinggal sendiri di apartment, kesedihan, kemarahan dan trauma atas perceraian itu tidak akan pernah bisa dilupakan Fayaz.

Beruntung Fayaz punya Kinar beserta Kei, Om Adi dan Tante Mira yang sangat memperhatikannya dan Ririe, seolah mereka berdua juga bagian dari keluarga bahagia itu.

"Hei Faryandra!"

Fayaz tersadar dari lamunannya. Refleks ia menoleh ke sisi kanan. Fayaz sempat terkejut saat melihat cewek cantik memakai t-shirts Tinkerbell yang baru saja menyapanya.

Samira

Mantan pacarnya yang terakhir dan baru putus sebulan lalu setelah jadian cuma 2 bulan 3 minggu

Mantan pacarnya yang paling cantik dan nyaris tanpa cela.

"Hei Mi. Lo sama siapa?" Fayaz dan Samira bercipika-cipiki.

"Gue bareng Adisy, Kiko, Tatha, Lala, hehe biasalah cewek-cewek. Lo? Sendirian aja Fay?"

"Ya. Lagi pengen sendirian nih hehehe. Anyway apa kabar? Baik-baik kan?"

Samira tersenyum. "Fine. Yeah, walau masih sakit hati karena diputusin Faryandra Azhar gue tetap OK kok, hehehe."

"Dudul ah. Jadi masih sakit hati nih ceritanya?"

"Enggaklah Fay. Buat apa juga sakit hati mulu? Kan masih banyak cowok selain elo." tukas Samira, ia melirik ponselnya yang dikirimi 1 SMS baru. "Fay gue cabut duluan yah. Eh jangan sombong-sombong dong ama mantan lo yang cantik ini. Nice to meet you dude! Bye."

Samira mengecup sekilas pipi Fayaz sebelum berlalu meninggalkan Starbucks.

Sepeninggal Samira tiba-tiba ponsel Fayaz berbunyi. Ada telfon masuk, dari Kinar. Fayaz cepat menjawabnya

Fayaz = Kenapa Jelek?

Kinar = Eh Nyet cepat pulang! Udah jam setengah sepuluh gini masih aja berkeliaran di Citos

Fayaz = Nanti ah. Gue belum puas cari ‘ikan’ disini. Belum ada yang nyangkut.

Kinar = Sekalian aja lo ke Muara Angke! Disana pasti lo dapat banyak ikan

Fayaz = Ogah! Gue gak suka gadis penjual ikan, bau amis sih! Gue lebih suka gadis kosmopolitan yang hobi jalan-jalan di Citos.

Kinar = Ih udah deh jangan mancing mulu! Buruan pulang

Fayaz = Memangnya kenapa gue harus pulang sekarang?

Kinar = Sekarang mendung Fay, kayaknya sih bakalan hujan besar. Udah deh gak usah banyak tanya. Cepetan pulang sebelum hujan

Fayaz = Iya-iya cerewet banget sih

Kinar = Nyetirnya ati-ati, jangan lupa pake sit bealt

Fayaz = Sip. Beres

Kinar = Bye

Setelah telfon ditutup Fayaz segera meninggalkan Starbucks, berjalan ke J.Co untuk membeli 2 lusin donat, satu lusin untuk Ririe dan satu lusin untuk Kinar, setelah itu ia meninggalkan Citos dan pulang.

 

***

 


Fayaz


2 orang terpenting dalam hidup gue adalah Ririe dan Kinar

Gue sayang Kinar sebagai sahabatnya yang gak bisa lepas dari dia.

Gue sayang Ririe sebagai kakak semata wayangnya yang bertanggungjawab mengganti peran bokap di rumah setelah bonyok gue cerai.

Sampai sekarang gue masih gak mengerti dengan keputusan bonyok untuk berpisah. Hellow mereka lupa kalau pernikahan itu sesuatu yang sakral dan suci? Kenapa bonyok tega mengotori kesakralan itu dengan perceraian yang disebabkan oleh 1 alasan bodoh = perselingkuhan.

Gue mungkin bisa mengerti sikap khilaf bokap yang punya cewek kuliahan sebagai pacar simpanannya

Tapi gue gak bisa mengerti sikap nyokap yang juga ikut-ikut memelihara brondong buat membalas ulah khilaf bokap

Bonyok gue gila.

Kenapa sih mereka egois banget? Kenapa sih mereka cuma mentingin ego masing-masing? Kenapa sih mereka gak mikirin dampak perceraian ini buat gue dan Ririe? Kenapa juga mereka adu ngotot memperebutkan hak asuh anaknya dan berasa kayak mereka orang tua paling care sedunia akherat?

Sejak bonyok cerai respek gue ke mereka meluntur

Sejak bonyok cerai gue menganggap mereka sebagai manusia dewasa dengan pemikiran dan kelakuan layaknya anak kecil.

Sejak bonyok cerai gue makin sayang Ririe

Sejak bonyok cerai gue jadi ngeri dan takut dengan pernikahan.

Buat apa menikah kalau ujung-ujungnya kayak mereka?

 

***

 

"Role model?" Fayaz mengernyitkan kening. Ia 100% heran dengan topik yang diangkat Kinar di obrolan sore kali ini. Sore ini gantian Kinar yang bertandang ke rumah Fayaz, mereka berdua duduk di kursi taman yang nyaman di dekat swimming pool, mengobrol dengan ditemani jus melon segar buatan Kinar dan donat J.Co yang semalam dibeli Fayaz.

"He-eh role model. Pernah dengar kan?" Kinar mengubah posisi duduknya sehingga lebih rileks.

"Pernah sih tapi gue gak ngerti banget arti role model yang benar kayak apa."

"Gue baca di majalah, role model itu adalah seseorang yang dijadikan panutan oleh orang lain. Seorang role model harus inspiring, bisa memberikan pengaruh positif ke orang yang lain dan yang pasti role model itu harus punya kepribadian yang oke."

Fayaz manggut-manggut. "Jadi semacam tokoh panutan gitu?"

"Yap! So siapa role model lo?"

Fayaz berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab. "Gue bingung ah. Lo duluan deh Ki. Siapa aja yang lo jadikan role model?"

"Gue punya banyak role mode. Yang pertama pastinya Ibu, dia tuh wanita paling hebat yang pernah gue kenal, she’s great mom! Yang kedua Ayah, gue sangat bersyukur bisa punya bokap yang unik dengan cara mendidik anak plus cara memimpin keluarga yang selalu gue suka. Ketiga Mas Kei, selain penyayang, pintar dan mandiri, gue kagum banget dengan banyaknya keahlian yang dia punya." Kinar berhenti sejenak sebelum melanjutkan omongannya. "Keempat Faryandra Azhar, sahabat paling pengertian sejagad raya yang selalu bisa membuat gue kagum dengan segala kehebatannya. Selain 4 nama itu masih banyak banget orang-orang hebat yang juga gue jadikan role model macam Oprah, JK Rowling, Natalie Portman, RA Kartini, Nia Dinata, Deddy Mizwar, Sitta Karina, Dian Sastrowardoyo, Christine Hakim."

"Banyak banget sih" Fayaz memotong

"Tunggu dulu, gue belum selesai. Nabi Muhammad, Budha, ilmuwan, filsuf, penulis, wartawan, sineas film pastinya juga masuk di daftar role model seorang Kinara Cempaka."

Fayaz mencubit hidung Kinar. "Lo maruk banget sih. Memangnya harus banyak-banyak ya?"

Kinar manyun. "Terserah gue dong. Eh udah untung nama lo gue cantumkan di daftar itu." Kinar mendadak jadi jutek. "Lo gimana? Siapa sih yang dijadikan role model biang narsis kayak lo?"

"Crayon Shinchan."

"Hah? Ih gue serius Fay. Kok Crayon Shinchan sih? Alasannya apa?"

"Alasannya? Karena Shinchan itu punya tarian pantat yang menggemaskan." dengan asalnya Fayaz menjawab.

Kinar makin manyun. "Gak ada nama lain selain Shinchan?"

"Ada dong!" wajah ganteng Fayaz jadi sok misterius. "Namanya Kinara Cempaka. Cewek hebat dengan otak cerdasnya yang selalu bikin gue kagum. Dengan sifat mandiri, organized, perfeksionis, rapih, rajin dan cerewetnya yang selalu bikin gue iri. Dia selalu bikin gue kagum dengan pendapat-pendapat cerdasnya. Dia selalu bikin gue bangga dengan semua mimpi-mimpi dan cita-cita mulianya. Dia selalu bikin gue tertawa dengan keahlian ngambeknya dan dia selalu bikin gue nyaman dengan perhatian dan kasih sayangnya yang tulus."

Kinar mengulum senyum, terharu. "Thanks Fay, gue terharu."

"Lah? Emangnya gue bilang role model gue itu elo? Maksud gue tuh bukan Kinara Cempaka yang ini. Yang gue maksud adalah Kinara Cempaka si penyanyi dangdut yang kemarin baru aja meluncurkan album dangdutnya yang judulnya Kucing Meong." Fayaz mulai becanda, wajahnya cengengesan seperti biasa.

Kinar buang muka. Kesal

 

***


Saturday Morning


Aira = Pagi cantik

Kinar = Pagi ganteng ehehehe. Ada apa Mas pagi-pagi nelfon?

Aira = Gak papa sih, cuma iseng aja. Kamu lagi ngapain?

Kinar = Barusan selesai jogging bareng Fayaz. Sekarang lagi bantu Ibu bikin nasi goreng untuk sarapan. Mas lagi apa?

Aira = Baru aja banugung nih. Sekarang masih tidur-tiduran di kasur. Nar, nanti malam ada acara gak?

Kinar = Enggak ada. Memangnya kenapa?

Aira = Mau nonton?

Kinar = Nonton apa? Dimana?

Aira = Terserah kamu.

Kinar = Okey aku mau asalkan gak pergi ke mall hehehe

Aira = = Iya babe, suit your self ajalah. Nanti jam 5 aku jemput yah

Kinar = Okey

Kinar senyam senyum kayak orang gila. Ia happy banget karena sekarang, tepat jam 08.02 Aira menelfonnya dan mengajaknya nonton! Apa ini kencan pertama? Apa ini tanda-tanda akan ada kemajuan di hubungan gue dan Aira? Senyum Kinar makin lebar, imajinasinya terbang melayang.

"Duh anak Ibu yang paling cantik ini. Ada apa nih pagi-pagi kok senyum-senyum sendirian?" Ibu bertanya sambil menghidangkan nasi goreng di piring.

"Ada deh. Mau tau aja." Kinar mengulum senyum lalu membantu Ibu membawa piring ke meja makan

Ibu duduk di kursinya. "Pasti karena Aira telfon kamu ya? Duuuh Ibu ngerti deh jatuh cinta memang berjuta rasanya."

"Siapa Bu yang jatuh cinta?" Ayah bergabung di meja makan masih dengan muka bantal.

"Kinar sedang jatuh cinta, Dia tergila-gila sama Aira, si ganteng anaknya Indria, temanku yang punya Pratz."

"Aira yang suka mengantar Kinar pulang itu?" Ayah mulai menikmati nasi gorengnya.

Kinar mengangguk dengan pipi yang mulai memerah. "Iya Yah Aira yang itu. Udah ah jangan ngomongin Aira. Aku malu nih."

"Ya udah. Eh ngomong-ngomong Kei mana? Kok gak ikut sarapan?"

"Mas Kei masih tidur, semalam kan dia begadang nonton bola. Aku tadi udah bangunin tapi dia gak bangun-bangun juga." Kinar juga mulai menikmati sarapannnya masih dengan fikiran yang melayang ke sosok Aira. Senyum kecil sesekali menghias bibirnya saat imajinasinya tentang kencan nanti malam dirasa terlalu liar dan gak masuk akal.

Selesai sarapan dan mencuci piring Kinar masuk ke kamarnya dan langsung membongkar isi lemari. Malam ini Kinar mau tampil ekstra cantik di depan Aira. Ia ingin terlihat mempesona di mata pangerannya itu. Setelah ngoprek isi lemari selama setengah jam akhirnya Kinar menemukan outift yang cocok untuk date pertamanya.

White dress + Jeans + Yellow Flat Shoes + White Cluth Bag + Bando Kuning

Simpel, cute dan Kinar banget

"Dek lagi ngapain? Gue boleh masuk gak?" Kei bertanya dari balik pintu.

"Bentar Mas!" Kinar cepat memasukkan semua isi lemarinya baru kemudian membuka pintu kamar.

Kei berdiri di muka pintu degan muka heran. "Kenapa lo kok keringetan gitu? Tadi ngapain dulu sih? Kok lama banget bukain pintunya?" Kei nyelonong masuk ke kamar Kinar dan duduk di sofa.

"Aku tadi lagi beres-beres lemari. Eh ada apa Mas? Tumben jam segini Mas udah bangun, biasanya Sabtu gini bangunnya jam 12."

"Gak ada apa-apa sih. Iseng doang. Dek, Aira apa kabar?"

Kinar duduk disamping Kei. "Dia baik-baik aja. Kenapa emangnya?"

"Lo harus hati-hati sama Aira."

Kinar mengangkat sebelah alisnya, bingung dengan kata-kata Kei itu. "Hati-hati? Kenapa aku harus hati-hati? Memangnya Aira kenapa? Dia baik kan?"

"Dek gue bilang elo harus hati-hati, gue gak pernah bilang Aira jahat."

"Tapi kenapa aku harus hati-hati? Aira kan baik."

Kei tersenyum lalu membelai rambut Kinar lembut. "Kinara, sikap hati-hati dan waspada harus selalu lo terapkan ke semua orang. Dek gak ada orang yang pernah tau sifat orang lain yang sebenar-benarnya selain Tuhan. Gue bukannya menyuruh elo untuk berprasangka buruk ke orang lain. Gue cuma minta elo berhati-hati dan waspada dengan segala kemungkinan."

"Kemungkinan?" Kinar masih belum mengerti

"Yap. Kemungkinan. Mungkin aja ada orang jahat yang pura-pura baik. Mungkin aja ada orang baik yang jadi jahat. Mungkin aja ada orang brengsek yang sok manis. Mungkin aja ada orang yang terlihat perfect tapi sebenarnya bobrok banget. Banyak banget kemungkinan Dek."

Kinar mulai mengerti arah pembicaraan ini. "Aku ngerti Mas. Thanks sarannya."

"Gue mau elo bisa melihat dunia lebih luas. Gue mau elo gak cuma ngerasain yang manis-manis aja, tapi juga yang pahit biar elo bisa belajar dan lebih tahan banting. Masih mau jadi super woman kan?"

"Iya dong. Menjadi super woman adalah salah satu cita-citaku."

"Lo pasti bisa. You go girl."

Kinar tersenyum, senang dengan perhatian yang selalu ditunjukkan abang tersayangnya ini. Buat Kinar, Kei adalah salah satu orang yang selalu dapat menjadi motivatornya ––selain orang tua dan Fayaz ––

Umur Kei baru 24, ia telah mengantongi gelar sarjana S1 Ekonomi UI dan sekarang sedang menempuh jenjang S2 di universitas yang sama sambil bekerja sebagai akuntan di salah satu company yang sangat bonafit di Jakarta.

Kei adalah makhluk serba bisa. Sepertinya semua hal bisa dikerjakan cowok ini. Kuliah oke, kerja oke, ia punya band beraliran techno jazz yang cukup sering manggung di cafe, jago banget design, jawaranya olahraga, sempat jadi guru bahasa Inggris, ngerti banget otomotif, pengetahuannya luas banget dan Kei juga jago banget menggaet cewek-cewek berkualitas dengan paduan fisik dan kepribadian yang mengagumkan.

Sudah setahun Kei berpacaran dengan Mutiara Dyaningtyas, model papan atas yang tengah naik daun dan menjadi model favorit para designer macam Adjie Notonegoro, Ichwan Toha, Sebastian Gunawan, Biyan dll. Tidak hanya cantik dan seksi, sosok Muti hadir sebagai wanita berkepribadian baik yang membuat semua orang menaruh respek padanya.

"Mas, Mbak Muti gimana kabarnya? Kemarin aku lihat di infotainment, katanya Mbak Muti main film bareng Luna Maya dan Nicholas Saputra. Wow hebat banget."

"Begitulah. Akhir-akhir ini gue jarang bisa bertemu Muti. Kesibukannya padat banget dan Muti emang sedang giat-giatnya berkarier. Yeah walau waktu untuk berdua menjadi semakin berkurang, sebisa mungkin gue dan Muti harus selalu berkomunikasi."

Kinar mendengarkan omongan Kei itu dengan binar bahagia di wajahnya. "So kapan kawin?"

Kei tergelak. "Huahaha pertanyaan lo sama aja kayak wartawan-wartawan infotainment yang selalu memburu Muti. Dek, menikah itu gak main-main, perlu banyak persiapan serius dan matang untuk menuju ke sana. Mas dan Mbak Muti belum siap dan belum mau mikirin itu."

"Btw Mas Kei dan Mbak Muti udah ngapain aja? Cerita-cerita dong ke aku." Kinar bertanya dengan ekspresi lucunya.

Kei geleng-geleng kepala sambil nyengir. "Dek lo diajarin apa ama Fayaz ampe lo jadi bokep juga kayak dia?"

 

***

June 9, 2007

Bab 1

Filed under: novel

SATU

 

“Woi sampai kapan elo mau di sini? Sekarang udah jam lima dan gue capek nunggu elo nyelesein mading kacrut itu.”

Kinar gak berkomentar, ia tetap serius menyelesaikan mading sekolahnya yang sore ini harus terbit. Sebentar lagi tugas Kinar selesai, ia tinggal memberi hiasan gambar-gambar lucu sebagai pemanis dan kemudian mading siap diterbitkan

“Buruan dong Ki. Pantat gue udah panas banget nih karena kelamaan duduk di sini. Gue mau pulaaaang!” Fayaz terus berkicau.

“Ih bawel banget sih! Sebentar lagi selesai kok. Mendingan elo diem deh Fay, gue capek denger ocehan elo.”

“Gue juga capek nunggu lo di sini.”

“Ya udah pulang gih! Gue juga gak mau ditungguin cowok bawel kayak lo.” Kinar berkata dengan raut wajah serius. Sejak tadi tugasnya belum juga selesai dan Fayaz terus saja ngoceh, membuat konsentrasinya buyar dan secara gak langsung membuat tugasnya makin lama selesainya.

Fayaz nyengir. “Deuu ngambek nih ceritanya. Tenang Ki gue gak akan pulang duluan. Gue kan sahabat yang baik, makanya gue rela nunggu elo di sini.”

“Terserah lo deh.”

Fayaz tergelak. Geli melihat raut kesal di wajah cantik sahabatnya ini.

Jarum jam telah menunjukkan pukul 17.05. Sekolah telah sepi, hampir semua murid telah meninggalkan sekolah karena bel akhir pelajaran telah berbunyi dua jam yang lalu. Kinar ––si ketua ekskul mading dan jurnalistik–– terpaksa pulang telat karena harus melaksanakan kewajibannya mengatur tampilan akhir madding sebelum diterbitkan. Fayaz juga ikut-ikutan pulang telat karena ia gak tega Kinar pulang sendirian, naik angkot pula! Makanya ia ikut duduk di ruang mading dan menemani Kinar.

20 menit kemudian akhirnya mading bulan ini selesai dikerjakan dan telah dipasang di tempatnya. Fayaz bersiul riang, senang karena penantian panjangnya akhirnya berakhir. Mereka berdua berjalan menuju mobil Fayaz yang terparkir di depan sekolah.

”Akhirnya penderitaan gue selesai juga. Thanks God!” Fayaz duduk di kursi kemudi, lalu menyetel CD Maliq & D’essentials dengan volume yang dinaikkannya sampai keras banget. Ia mulai melajukan mobil menuju rumahnya (dan rumah Kinar juga) yang terletak di kawasan Cibubur.

Kinar mengecilkan volume CD player sampai ke tingkat normal. “Iiih elo tuh selalu dengerin musik dengan volume yang bisa bikin kuping gue pecah. Fay, bisa gak sih sekali aja elo bersikap kayak orang normal?”

Fayaz tertawa. “Ki, justru itu kelebihan gue. Sikap gue yang nyentrik ini pastinya bikin orang-orang seneng dekat ama gue. Termasuk elo. Ya kan?”

“Amit-amit deh. Nyong, kalo aja ada orang lain yang bisa jadi sahabat gue, pastinya gue akan memilih orang itu dan gak akan bersahabat dengan cowok gila kayak lo.”

“Sayangnya gak ada orang lain yang bisa ngertiin elo kayak apa yang gue lakuin.” Fayaz tersenyum puas.

Kinar buang muka. Malas menanggapi sobat sablengnya ini.

Fayaz melirik Kinar dengan wajah tengilnya yang khas. Ia senang karena (lagu-lagi) Kinar gak berkutik dan gak bisa membalas omongannya.

Kinar dan Fayaz adalah sepasang sahabat yang telah saling mengenal sejak 8 tahun lalu. Rumah mereka yang bersebelahan dan sekolah mereka yang selalu sama membuat hubungan keduanya akrab dan gak bisa dipisahkan.

Pertemanan akrab ini bermula 8 tahun lalu, di suatu sore yang indah saat keluarga Fayaz baru saja pindah ke rumah yang tepat berada di samping kediaman keluarga Kinar. Saat itu Kinar girang banget karena akhirnya rumah kosong ––yang sering dibilang rumah setan oleh teman-temannya–– akhirnya kedatangan penghuninya juga. Dan Kinar lebih senang lagi tatkala mendapat teman main baru yang seumuran dengannya.

Saat pertama kali bertemu Fayaz, Kinar sangat excited untuk memulai pertemanan dengan cowok ini. Sayangnya Fayaz (yang saat itu masih kesal dengan keputusan Papa yang dengan seenak jidat membawa keluarganya meninggalkan New York dan tinggal di Jakarta) tidak terlalu bersemangat untuk memulai pertemanan dengan siapapun. Tapi lambat laun Fayaz stress karena ia gak punya teman dan dijauhi karena dianggap  sombong. Untunglah Kinar datang dan mengajaknya main bareng. Sejak saat itulah mereka menjadi dekat dan akhirnya bersahabat sampai sekarang.

“Dasar jelek! Besok gue ogah nungguin elo kayak gini. CAPEK.” Fayaz kembali mulai menggerutu. Sifat usilnya lagi-lagi kumat.

Kinar yang sejak tadi bengong terusik mendengar pancingan Fayaz yang kembali mengajaknya untuk adu mulut. “Gue gak pernah minta elo untuk nungguin gue. Gue bisa pulang sendiri tau!”

“Gue kasian sama lo. Makanya gue bela-belain nunggu elo.”

“Heh dudul. Selain gue gak pernah minta elo untuk nungguin gue, gue juga gak pernah minta elo untuk mengasihani gue. Gue itu cewek mandiri, gue bisa kok pulang sendiri naik angkot. Lagipula mendingan gue pulang sendirian daripada gue harus pulang bareng cowok bawel kayak lo.” Kinar mulai bete

Fayaz terkekeh. “Yaaah jangan bete gitu dong. Gue cuma becanda kok. Sorry deh sorry.” Fayaz mengacak-ngacak rambut Kinar lembut.

“Eh monyong jangan belai-belai rambut gue segala deh. Nanti kalo ada fans maniak elo yang melihat, gue bisa digantung ama mereka.” Kinar melengos sambil tersenyum lucu.

Reputasi Fayaz sebagai cowok ganteng dan ketua ekskul bola di sekolah membuatnya banyak disukai cewek-cewek 1 sekolah. Kinar sih ikutan senang dan geli melihat Fayaz yang begitu digilai wanita. Tapi, Kinar juga sempat bete lantaran ada kakak kelas yang naksir Fayaz melabraknya dan menyuruhnya untuk menjauh dari Fayaz. Iiih gue kan cuma sahabatnya! Lagipula siapa juga yang mau pacaran ama cowok tengil dan  gila kayak Fayaz?

“Harusnya lo bangga karena sahabat lo yang ganteng ini begitu populer dan digilai wanita seantero sekolah.” Fayaz membusungkan dada dengan bangga.

“Koreksi lo bukan digilai wanita, tapi elo digilai cewek-cewek kecentilan yang sama sekali gak penting.”

“Masa bodo. Yang penting gue punya fans banyak. Yang penting gue bisa ngerasain jadi selebritis di sekolah. Heheheh.”

“Najis banget sih lo. Dasar narsis.”

Fayaz tertawa. “Anyway Aira gimana kabarnya? Udah lama gue gak ketemu dia.” Fayaz melirik sekilas wajah Kinar yang mendadak blushing begitu sebuah nama ia sebut.

Kinar menepuk-nepuk pipinya, enggan sahabatnya ini melihat pipinya yang merona kemerahan. “Aira baik-baik aja. Kayaknya dia lagi sibuk berat, gue aja udah hampir 2 minggu gak ketemu dia.”

“Hubungan kalian sebenarnya gimana sih? pacaran? ttm? hts?”

“Tau deh, gue juga gak ngerti. Yang pasti Fay, gue sayang banget sama Aira. Mudah-mudahan aja sesegera mungkin kita bisa jadian.”

Fayaz tersenyum. “Gue pasti dukung elo Ki. Apapun yang bikin lo senang pasti akan gue dukung.” Fayaz berkata mantap.

“Ow! Thanks darling. Lo emang sobat gue yang paling top.”

“Ya iyalah. Fayaz gitu looh.”

 

***

-Malam Harinya-

 

“PR Akuntansi udah. Makalah sejarah udah. Tugas seni udah. Hmmm yang belum apa yah?” Kinar memeriksa daftar tugas untuk besok sebelum ia memasukkan semua buku-bukunya ke tas. Kinar adalah orang yang perfeksionis. Ia selalu teliti dalam melakukan apapun, kapanpun dan dimanapun ia berada.

Sifat Kinar yang teliti dan perfeksionis berbanding terbalik dengan sifat slebor Fayaz yang cenderung santai dan ––menurut Kinar–– sangat tidak organized. Fayaz tuh jagonya menghilangkan barang. Gak sedikit barang-barang milik Kinar yang dipinjamnya hilang dan tidak terdeteksi keberadaannya. Fayaz juga juaranya berantakan! Sesekali saking kesalnya melihat mobil Fayaz yang kayak kapal pecah, Kinar dengan rela hati membantu merapikan mobil sahabatnya ini.

Sifat Kinar dan Fayaz memang banyak yang berlawanan. Mereka juga sering sekali berselisih dan bertengkar karena perbedaan itu. Tapi pada akhirnya mereka sama-sama sadar bahwa perbedaan itulah yang membuat persahabatan mereka menjadi penuh warna.

Kalo gak ada Fayaz dunia Kinar pasti bakalan basi banget

Kalo gak ada Fayaz pasti Kinar gak akan punya sahabat yang begitu unik

Fayaz telah menempati tempat spesial di hati Kinar. Dan mungkin tanpa Fayaz sadari, Kinar sangat membutuhkan sosok seorang Faryandra Azhar dalam hidupnya.

Fayaz = paket komplet

Cowok ganteng (Kinar gak akan mau memuji kegantengan Fayaz karena ia tau banget ‘gelar’ Fayaz sebagai makhluk ternarsis sedunia akherat) yang baik banget, konyol, lucu, perhatian, sangat gentleman, gak sombong, suka membantu orang lain. Walau rese, hobi ngejek, berantakan dan usil banget, sosok Fayaz tetap memiliki ruang tersendiri di kehidupan Kinar.

Beribu hari telah lewat, delapan tahun juga telah lewat dan persahabatan mereka tetap mulus bertahan. Kinar mau persahabatannya dengan Fayaz terus langgeng sampai mereka menjadi kakek nenek. Obsesi kecil Kinar adalah ia ingin terus bersahabat dengan Fayaz sampai tua, terus bertetangga walau nantinya masing-masing telah berkeluarga, dan yang pasti Kinar mau menjodohkan anaknya dengan anak Fayaz! Memang sih agak konyol, Kinar juga kerap tertawa sendiri begitu mengingat obsesinya ini,  tapi Kinar ingin obsesi kecilnya itu terwujud supaya nantinya ia dan Fayaz bisa menjadi satu keluarga besar.

Kinar membuka gorden kamarnya, menatap jendela kamar Fayaz yang bersebrangan dengan jendela kamarnya.

Kamar Fayaz gelap.

Kinar kembali menutup gorden kamarnya, ia kemudian berjalan ke kamar mandi untuk melaksanakan ritual hariannya sebelum tidur.

 

***

 

Kinar itu cantik dan manis banget dengan wajah ayu yang sangat Indonesia. Dia itu sangat sangat baik, pintar, aktif di kegiatan sekolah, mandiri, cerewet, unik, optimis, disiplin, penuh semangat, lucu, pengalah, rapih, cewek banget dan gampang ngambek.

Pokokya sifat Kinar tuh campur-campur dan gak bisa dijabarin satu per satu.

Fayaz mengambil sebuah foto dari atas meja belajar. Foto dirinya dan Kinar 5 bulan lalu, saat mereka sedang liburan bareng di Pulau Umang. Di foto itu Fayaz dan Kinar sedang duduk di tepi pantai dan tersenyum penuh kebahagiaan.

Kebahagiaan.

Bagi Fayaz, Kinar adalah sumber kebahagiaannya. Kalau Kinar bahagia, pasti Fayaz akan ikut bahagia. Tapi kalau Kinar sedih, secara otomatis Fayaz akan turut bersedih.

Fayaz ingin menjaga Kinar.

Ia ingin menjaga Kinar lebih dari seorang sahabat. Ia ingin menjaga Kinar seperti seorang ayah menjaga anaknya, seperti seorang kakak menjaga adiknya, seperti Superman menjaga Lois Lane, seperti Spiderman menjaga Mary Jane.

Intinya Fayaz ingin menjaga Kinar seutuhnya, layaknya seorang sahabat yang baik.

Mengenal dan bersahabat dengan Kinar adalah hal paling membahagiakan bagi Fayaz.

Dan Fayaz ingin menjaga persahabataannya ini seperti keinginannya untuk selalu menjaga Kinar.

 

***

 

@ Kantin. 16.10

“Hei Kinara. Ngapain sendirian di sini?”

Seorang cowok menyapa Kinar yang tengah duduk sendirian di kantin sambil membaca sebuah buku yang 2 hari lalu baru dibelinya di Pratz. Kinar menoleh ke cowok itu dan langsung menyunggingkan senyum manis. “Hei Za. Gue lagi nunggu Fayaz latian bola. Lo ngapain? Beli minum?”

Cowok itu ––Laza–– mengangguk lalu duduk di depan Kinar. “He-eh. Lo nunggu Fayaz latian? Wow, lo tuh sahabatnya atau pacarnya sih?”

Kinar menutup buku yang sedang dibacanya sebelum menjawab pertanyaan Laza (pertanyaan yang sering banget orang-orang tanyain, sampai-sampai Kinar hafal jawabannya di luar kepala)“Gue itu sahabatnya Fayaz yang udah kayak saudara saking deketnya ama dia. Anyway, emangnya kalo mau nunggu Fayaz harus jadi pacarnya dulu ya? Heheheh.”

Laza nyengir. “Gak gitu juga sih. Gue heran aja ngeliat elo dan Fayaz yang lengkeeet banget. Kalian beneran cuma sahabatan kan?”

“Iyalah! Emangnya kenapa sih?” Kinar menatap cowok lucu ini, Laza itu merupakan salah satu cowok lucu di sekolah yang dulu sempat masuk 10 Hot Hunks @ School versi Kinar.

“Gak papa, cuma nanya aja. Hmm, Fayaz beruntung banget punya sahabat cantik kayak lo.”

Kinar menimpali. “Gue juga beruntung punya sahabat gila kayak dia. Di dunia ini jarang banget ada orang kayak Fayaz. Dia kan salah satu masuk langka dan beruntung sekali gue bisa mengenal dia.”

Apa sih hebatnya Fayaz sampai Kinar selalu happy saat bersama dia? Apa sih hebatnya cowok norak itu? Laza membatin heran. Dari awal masuk SMA, ia langsung menyukai Kinar, cewek berwajah ayu yang menurutnya punya senyum yang sangat manis. Sayang kesempatan untuk mengenal Kinar lebih jauh selalu terhalang dengan keberadaan Fayaz yang selalu ada di dekat cewek pujaannya itu.

“Nar boleh nanya sesuatu gak?”

“Boleh. Mau nanya apa Za?”

Laza menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya gak gatal. “Menurut lo Fayaz orangnya gimana? Gue mau elo jawab secara obyektif, tanpa memandang dia sebagai sahabat dekat lo.”

Kinar menaikkan sebelah alisnya. Bingung dengan pertanyaan Laza dan bingung dengan arah pembicaraan ini. “Pertanyaan lo aneh banget sih. Tapi kalo emang gue harus jawab, gue akan bilang Fayaz adalah orang yang hebat.”

“Hebat?”

“Hebat banget malah. Secara obyektif gue menilai Fayaz sebagai sosok cowok konyol yang selalu bisa bikin orang-orang tertawa. Dia juga charming, selalu jadi pusat perhatian––perhatian cewek-cewek centil maksud gue heheh–– cerdas, baik dan lucu.”

Sehebat itu? “Lo pasti sayang Fayaz ya?”

“Iyalah gue sayang dia. Fayaz tuh setengahnya jiwa gue. Dia tau semua hal tentang gue, bahkan mungkin dia orang lain ––selain keluarga gue–– yang mengenal gue dengan sangat baik. Satu kelebihan Fayaz yang sangat gue suka, dia bisa menunjukkan rasa kasih sayangnya dengan cara yang unik dan bisa membuat gue tersenyuh. Intinya Fayaz penting banget buat gue.” Kinar menjelaskan panjang lebar, lengkap dengan ekspresi wajah penuh kebanggaan

“Eh apanya yang penting?”

Tiba-tiba Fayaz muncul, duduk disamping Kinar dengan tubuh bermandikan peluh. “Hei Za! Eh basket gimana? Kayaknya ketua kita ini jor-joran banget mempersiapkan tim sekolah buat basket cup tahun ini.”

“Gitu deh Fay, sesekali pengen lah dapetin piala, bosen jadi tim penggembira terus.” Laza menjawab singkat, ia meminum Aqua-nya sampai habis lalu bangkit dari kursi. “Eh, gue cabut dulu ya! Yok Fay. Nar, thanx yah buat ceritanya.Bye.”

 Laza berjalan meninggalkan kantin.

“Tadi cerita apa aja ke Laza?” Fayaz bertanya sesaat setelah Laza pergi.

“Gak cerita apa-apa. Udah yuk pulang. Nanti malam gue kerja sekaligus ketemu Aira di Pratz, otomatis dong gue harus tampil ekstra cantik di depan pangeran pujaan gue itu.”

Kinar menyandang  tas, lalu berjalan duluan, ninggalin Fayaz.

Fayaz menyusulnya dengan wajah penuh senyum. “Kayaknya tadi gue dengar seseorang muji-muji gue dan bilang ke Laza kalo sahabatnya itu penting banget buat dia. Sahabatnya itu juga suka mengekspresikan kasih sayangnya dengan cara yang unik. Siapa tuh?”

Kinar blushing, malu opininya tadi didengar Fayaz.

“Hahahaha akhirnya elo mengakui betapa pentingnya gue di kehidupan lo.”

Kinar gak berkomentar, ia mempercepat langkahnya tanpa menoleh ke belakang. Fayaz berjalan di belakang Kinar sambil tertawa keras banget.

 

***

 

-Malam Harinya @ Pratz Bookstores-

Pratz Bookstores adalah sebuah book store bergaya urban metropolis yang terletak di bilangan Pondok Indah. Meski namanya belum seterkenal Aksara atau Gramedia, book store ini memiliki banyak kelebihan yang membuatnya menjadi satu tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi.

Kinar telah menjadi pegawai freelance di Pratz sejak 8 bulan lalu. Kebetulan Ibu Frida––pemilik Pratz–– adalah teman SMA Ibu Kinar, jadilah ia diberi kesempatan owner Pratz ini untuk bekerja 2x seminggu di book storenya ini.

“Eh Nyet udah sampe nih. Entar pulang ada tumpangan kan?” Fayaz mengantar Kinar sampai di parkiran Pratz.

“Yeah. Tumpangan? Gampang lah. Kalo nanti gue gak bisa nebeng Andro, palingan gue pulang naik angkot.”

“Jangan naik angkot deh. Kalo nanti elo gak bisa nebeng Andro, lo telfon gue yah, nanti gue jemput.”

“Gak usahlah. Gue naik angkot aja. Fay, gue bisa kok pulang sendiri.”

Fayaz mencubit pipi Kinar. “Bandel banget sih lo. Pokoknya elo harus telfon gue dan gue bakalan jemput elo. TITIK.”

“Ya udahlah terserah lo aja.” Kinar menyandang tas-nya lalu turun dari Audi Fayaz. “Makasih ya Sobh. Nyetirnya pelan-pelan, gak usah ngebut.”

Fayaz tersenyum. “Anytime Miss. Met kerja yah. Bye.”

Setelah Audi Fayaz pergi, Kinar segera berjalan memasuki Pratz, siap memulai pekerjaannya.

Petang ini Pratz cukup sepi, maklumlah hari Senin, awal minggu baru yang selalu membuat sibuk. Kinar menyapa Andro dan Nena yang sedang bertugas di kassa baru kemudian masuk ke office untuk menaruh tas dan memakai vest khusus pegawai Pratz. Setelah itu Kinar menghampiri Dahl yang sedang menyusun buku-buku di display.

“Hei Nar, ternyata kamu udah datang. Udah lama?”

Kinar yang sedang ngobrol dengan Dahl cepat balik badan. Ia surprised melihat cowok ganteng berlabel AIRA HARNOVA yang hari ini terlihat oke banget dengan white polo shirt yang melekat di body yummy-nya. “Hei Mas, aku baru aja dateng.”

“Berangkat sama siapa?” Aira memulai percakapan.

“Tadi diantar Fayaz, sahabat terkasihku yang kadang-kadang merangkap jadi supirku juga heheheh,” Kinar mencoba melucu, berusaha meredakan gemuruh jantungnya yang selalu timbul saat ia berdekatan dengan pangeran pujaannya ini. “Tumben Mas ada di sini. Biasanya sibuk berkelana di tempat-tempat gaul Jakarta bareng para AGJ.”

Aira tersenyum. “Gue bosen jalan-jalan mulu. Mending gue di sini, bantu-bantu nyokap dan ngobrol sama kamu.” Aira mulai aksi flirting-nya.

Kinar tersipu, satu kelebihan Aira yang sampai saat ini sangat disukai Kinar adalah ia sangat sering bertutur kata manis yang membuat hatinya bersorak-sorak kegirangan, beda banget dengan Fayaz yang selalu cablak dan ceplas-ceplos.

“Nar kenapa sih kok kamu mau kerja di sini? Ehm, maksud gue jarang gitu ada anak SMA yang mau kerja dan cari duit kayak kamu gini.”

“Aku mau cari pengalaman.” Kinar berkata mantap. “Aku mau buktikan ke orang-orang kalau aku bisa mandiri dan bisa dapet uang dengan jerih payahku sendiri ––walaupun hasilnya gak banyak-banyak banget­–– aku juga mau cari kegiatan lain di luar kegiatan sekolah. Alhamdulillah sejauh ini aku bisa enjoy dengan pekerjaanku ini.”

“Wow, nyokap pasti senang dan bangga punya pegawai yang berdedikasi tinggi seperti kamu.”

Kinar nyengir. “Berdidikasi tinggi? Aku? Hahaha ngaco deh.”

“Loh? Kok ngaco? Gue serius loh. Gak banyak cewek 17 tahun yang punya semangat dan pemikiran kayak kamu.”

Pipi Kinar dengan otomatis memerah mendengar pujian Aira itu.

“Anyway nanti mau pulang bareng gak?”

Kinar menggangguk dengan pipi yang semakin memerah. Malam ini ia bahagia sekali.

***

Kinara

Aira = pangeran pujaan gue

Gue benar-benar jatuh cinta ama si bang ganteng itu! Duuuuuh ternyata jatuh cinta benar-benar nikmat rasanya. Jatuh cinta mengakibatkan semangat membara, wajah penuh tawa ceria dan yang pasti membuat orang tergila-gila (aiiiih bahasa gue dangdut banget ya? hehehhe)

Wajar banget sih kalo gue suka Aira. Gue tau di dunia ini gak ada orang yang sempurna, tapi di mata gue sosok Aira keliatan begitu sempurna. Aira itu ganteng berat! Mukanya tuh campuran ganteng, lucu, manis, asem, asin, ––lah? Aira ini orang atau permen? –– Aira juga tinggi, punya body yang sangat-sangat bagus dan dia juga punya senyum maut yang selalu sanggup membuat gue meleleh di tempat.

Mau tau kelebihan Aira yang lain?

Aira itu perhatian, lembut, dewasa, charming, romantis, gaul abis dengan teman-teman segambreng yang tersebar di seantero jagad dunia gaul Jakarta.

Intinya gue tergila-gila dengannya.

Ouwh! Aku jatuh cinta

***