June 9, 2007

Bab 1

Filed under: novel

SATU

 

“Woi sampai kapan elo mau di sini? Sekarang udah jam lima dan gue capek nunggu elo nyelesein mading kacrut itu.”

Kinar gak berkomentar, ia tetap serius menyelesaikan mading sekolahnya yang sore ini harus terbit. Sebentar lagi tugas Kinar selesai, ia tinggal memberi hiasan gambar-gambar lucu sebagai pemanis dan kemudian mading siap diterbitkan

“Buruan dong Ki. Pantat gue udah panas banget nih karena kelamaan duduk di sini. Gue mau pulaaaang!” Fayaz terus berkicau.

“Ih bawel banget sih! Sebentar lagi selesai kok. Mendingan elo diem deh Fay, gue capek denger ocehan elo.”

“Gue juga capek nunggu lo di sini.”

“Ya udah pulang gih! Gue juga gak mau ditungguin cowok bawel kayak lo.” Kinar berkata dengan raut wajah serius. Sejak tadi tugasnya belum juga selesai dan Fayaz terus saja ngoceh, membuat konsentrasinya buyar dan secara gak langsung membuat tugasnya makin lama selesainya.

Fayaz nyengir. “Deuu ngambek nih ceritanya. Tenang Ki gue gak akan pulang duluan. Gue kan sahabat yang baik, makanya gue rela nunggu elo di sini.”

“Terserah lo deh.”

Fayaz tergelak. Geli melihat raut kesal di wajah cantik sahabatnya ini.

Jarum jam telah menunjukkan pukul 17.05. Sekolah telah sepi, hampir semua murid telah meninggalkan sekolah karena bel akhir pelajaran telah berbunyi dua jam yang lalu. Kinar ––si ketua ekskul mading dan jurnalistik–– terpaksa pulang telat karena harus melaksanakan kewajibannya mengatur tampilan akhir madding sebelum diterbitkan. Fayaz juga ikut-ikutan pulang telat karena ia gak tega Kinar pulang sendirian, naik angkot pula! Makanya ia ikut duduk di ruang mading dan menemani Kinar.

20 menit kemudian akhirnya mading bulan ini selesai dikerjakan dan telah dipasang di tempatnya. Fayaz bersiul riang, senang karena penantian panjangnya akhirnya berakhir. Mereka berdua berjalan menuju mobil Fayaz yang terparkir di depan sekolah.

”Akhirnya penderitaan gue selesai juga. Thanks God!” Fayaz duduk di kursi kemudi, lalu menyetel CD Maliq & D’essentials dengan volume yang dinaikkannya sampai keras banget. Ia mulai melajukan mobil menuju rumahnya (dan rumah Kinar juga) yang terletak di kawasan Cibubur.

Kinar mengecilkan volume CD player sampai ke tingkat normal. “Iiih elo tuh selalu dengerin musik dengan volume yang bisa bikin kuping gue pecah. Fay, bisa gak sih sekali aja elo bersikap kayak orang normal?”

Fayaz tertawa. “Ki, justru itu kelebihan gue. Sikap gue yang nyentrik ini pastinya bikin orang-orang seneng dekat ama gue. Termasuk elo. Ya kan?”

“Amit-amit deh. Nyong, kalo aja ada orang lain yang bisa jadi sahabat gue, pastinya gue akan memilih orang itu dan gak akan bersahabat dengan cowok gila kayak lo.”

“Sayangnya gak ada orang lain yang bisa ngertiin elo kayak apa yang gue lakuin.” Fayaz tersenyum puas.

Kinar buang muka. Malas menanggapi sobat sablengnya ini.

Fayaz melirik Kinar dengan wajah tengilnya yang khas. Ia senang karena (lagu-lagi) Kinar gak berkutik dan gak bisa membalas omongannya.

Kinar dan Fayaz adalah sepasang sahabat yang telah saling mengenal sejak 8 tahun lalu. Rumah mereka yang bersebelahan dan sekolah mereka yang selalu sama membuat hubungan keduanya akrab dan gak bisa dipisahkan.

Pertemanan akrab ini bermula 8 tahun lalu, di suatu sore yang indah saat keluarga Fayaz baru saja pindah ke rumah yang tepat berada di samping kediaman keluarga Kinar. Saat itu Kinar girang banget karena akhirnya rumah kosong ––yang sering dibilang rumah setan oleh teman-temannya–– akhirnya kedatangan penghuninya juga. Dan Kinar lebih senang lagi tatkala mendapat teman main baru yang seumuran dengannya.

Saat pertama kali bertemu Fayaz, Kinar sangat excited untuk memulai pertemanan dengan cowok ini. Sayangnya Fayaz (yang saat itu masih kesal dengan keputusan Papa yang dengan seenak jidat membawa keluarganya meninggalkan New York dan tinggal di Jakarta) tidak terlalu bersemangat untuk memulai pertemanan dengan siapapun. Tapi lambat laun Fayaz stress karena ia gak punya teman dan dijauhi karena dianggap  sombong. Untunglah Kinar datang dan mengajaknya main bareng. Sejak saat itulah mereka menjadi dekat dan akhirnya bersahabat sampai sekarang.

“Dasar jelek! Besok gue ogah nungguin elo kayak gini. CAPEK.” Fayaz kembali mulai menggerutu. Sifat usilnya lagi-lagi kumat.

Kinar yang sejak tadi bengong terusik mendengar pancingan Fayaz yang kembali mengajaknya untuk adu mulut. “Gue gak pernah minta elo untuk nungguin gue. Gue bisa pulang sendiri tau!”

“Gue kasian sama lo. Makanya gue bela-belain nunggu elo.”

“Heh dudul. Selain gue gak pernah minta elo untuk nungguin gue, gue juga gak pernah minta elo untuk mengasihani gue. Gue itu cewek mandiri, gue bisa kok pulang sendiri naik angkot. Lagipula mendingan gue pulang sendirian daripada gue harus pulang bareng cowok bawel kayak lo.” Kinar mulai bete

Fayaz terkekeh. “Yaaah jangan bete gitu dong. Gue cuma becanda kok. Sorry deh sorry.” Fayaz mengacak-ngacak rambut Kinar lembut.

“Eh monyong jangan belai-belai rambut gue segala deh. Nanti kalo ada fans maniak elo yang melihat, gue bisa digantung ama mereka.” Kinar melengos sambil tersenyum lucu.

Reputasi Fayaz sebagai cowok ganteng dan ketua ekskul bola di sekolah membuatnya banyak disukai cewek-cewek 1 sekolah. Kinar sih ikutan senang dan geli melihat Fayaz yang begitu digilai wanita. Tapi, Kinar juga sempat bete lantaran ada kakak kelas yang naksir Fayaz melabraknya dan menyuruhnya untuk menjauh dari Fayaz. Iiih gue kan cuma sahabatnya! Lagipula siapa juga yang mau pacaran ama cowok tengil dan  gila kayak Fayaz?

“Harusnya lo bangga karena sahabat lo yang ganteng ini begitu populer dan digilai wanita seantero sekolah.” Fayaz membusungkan dada dengan bangga.

“Koreksi lo bukan digilai wanita, tapi elo digilai cewek-cewek kecentilan yang sama sekali gak penting.”

“Masa bodo. Yang penting gue punya fans banyak. Yang penting gue bisa ngerasain jadi selebritis di sekolah. Heheheh.”

“Najis banget sih lo. Dasar narsis.”

Fayaz tertawa. “Anyway Aira gimana kabarnya? Udah lama gue gak ketemu dia.” Fayaz melirik sekilas wajah Kinar yang mendadak blushing begitu sebuah nama ia sebut.

Kinar menepuk-nepuk pipinya, enggan sahabatnya ini melihat pipinya yang merona kemerahan. “Aira baik-baik aja. Kayaknya dia lagi sibuk berat, gue aja udah hampir 2 minggu gak ketemu dia.”

“Hubungan kalian sebenarnya gimana sih? pacaran? ttm? hts?”

“Tau deh, gue juga gak ngerti. Yang pasti Fay, gue sayang banget sama Aira. Mudah-mudahan aja sesegera mungkin kita bisa jadian.”

Fayaz tersenyum. “Gue pasti dukung elo Ki. Apapun yang bikin lo senang pasti akan gue dukung.” Fayaz berkata mantap.

“Ow! Thanks darling. Lo emang sobat gue yang paling top.”

“Ya iyalah. Fayaz gitu looh.”

 

***

-Malam Harinya-

 

“PR Akuntansi udah. Makalah sejarah udah. Tugas seni udah. Hmmm yang belum apa yah?” Kinar memeriksa daftar tugas untuk besok sebelum ia memasukkan semua buku-bukunya ke tas. Kinar adalah orang yang perfeksionis. Ia selalu teliti dalam melakukan apapun, kapanpun dan dimanapun ia berada.

Sifat Kinar yang teliti dan perfeksionis berbanding terbalik dengan sifat slebor Fayaz yang cenderung santai dan ––menurut Kinar–– sangat tidak organized. Fayaz tuh jagonya menghilangkan barang. Gak sedikit barang-barang milik Kinar yang dipinjamnya hilang dan tidak terdeteksi keberadaannya. Fayaz juga juaranya berantakan! Sesekali saking kesalnya melihat mobil Fayaz yang kayak kapal pecah, Kinar dengan rela hati membantu merapikan mobil sahabatnya ini.

Sifat Kinar dan Fayaz memang banyak yang berlawanan. Mereka juga sering sekali berselisih dan bertengkar karena perbedaan itu. Tapi pada akhirnya mereka sama-sama sadar bahwa perbedaan itulah yang membuat persahabatan mereka menjadi penuh warna.

Kalo gak ada Fayaz dunia Kinar pasti bakalan basi banget

Kalo gak ada Fayaz pasti Kinar gak akan punya sahabat yang begitu unik

Fayaz telah menempati tempat spesial di hati Kinar. Dan mungkin tanpa Fayaz sadari, Kinar sangat membutuhkan sosok seorang Faryandra Azhar dalam hidupnya.

Fayaz = paket komplet

Cowok ganteng (Kinar gak akan mau memuji kegantengan Fayaz karena ia tau banget ‘gelar’ Fayaz sebagai makhluk ternarsis sedunia akherat) yang baik banget, konyol, lucu, perhatian, sangat gentleman, gak sombong, suka membantu orang lain. Walau rese, hobi ngejek, berantakan dan usil banget, sosok Fayaz tetap memiliki ruang tersendiri di kehidupan Kinar.

Beribu hari telah lewat, delapan tahun juga telah lewat dan persahabatan mereka tetap mulus bertahan. Kinar mau persahabatannya dengan Fayaz terus langgeng sampai mereka menjadi kakek nenek. Obsesi kecil Kinar adalah ia ingin terus bersahabat dengan Fayaz sampai tua, terus bertetangga walau nantinya masing-masing telah berkeluarga, dan yang pasti Kinar mau menjodohkan anaknya dengan anak Fayaz! Memang sih agak konyol, Kinar juga kerap tertawa sendiri begitu mengingat obsesinya ini,  tapi Kinar ingin obsesi kecilnya itu terwujud supaya nantinya ia dan Fayaz bisa menjadi satu keluarga besar.

Kinar membuka gorden kamarnya, menatap jendela kamar Fayaz yang bersebrangan dengan jendela kamarnya.

Kamar Fayaz gelap.

Kinar kembali menutup gorden kamarnya, ia kemudian berjalan ke kamar mandi untuk melaksanakan ritual hariannya sebelum tidur.

 

***

 

Kinar itu cantik dan manis banget dengan wajah ayu yang sangat Indonesia. Dia itu sangat sangat baik, pintar, aktif di kegiatan sekolah, mandiri, cerewet, unik, optimis, disiplin, penuh semangat, lucu, pengalah, rapih, cewek banget dan gampang ngambek.

Pokokya sifat Kinar tuh campur-campur dan gak bisa dijabarin satu per satu.

Fayaz mengambil sebuah foto dari atas meja belajar. Foto dirinya dan Kinar 5 bulan lalu, saat mereka sedang liburan bareng di Pulau Umang. Di foto itu Fayaz dan Kinar sedang duduk di tepi pantai dan tersenyum penuh kebahagiaan.

Kebahagiaan.

Bagi Fayaz, Kinar adalah sumber kebahagiaannya. Kalau Kinar bahagia, pasti Fayaz akan ikut bahagia. Tapi kalau Kinar sedih, secara otomatis Fayaz akan turut bersedih.

Fayaz ingin menjaga Kinar.

Ia ingin menjaga Kinar lebih dari seorang sahabat. Ia ingin menjaga Kinar seperti seorang ayah menjaga anaknya, seperti seorang kakak menjaga adiknya, seperti Superman menjaga Lois Lane, seperti Spiderman menjaga Mary Jane.

Intinya Fayaz ingin menjaga Kinar seutuhnya, layaknya seorang sahabat yang baik.

Mengenal dan bersahabat dengan Kinar adalah hal paling membahagiakan bagi Fayaz.

Dan Fayaz ingin menjaga persahabataannya ini seperti keinginannya untuk selalu menjaga Kinar.

 

***

 

@ Kantin. 16.10

“Hei Kinara. Ngapain sendirian di sini?”

Seorang cowok menyapa Kinar yang tengah duduk sendirian di kantin sambil membaca sebuah buku yang 2 hari lalu baru dibelinya di Pratz. Kinar menoleh ke cowok itu dan langsung menyunggingkan senyum manis. “Hei Za. Gue lagi nunggu Fayaz latian bola. Lo ngapain? Beli minum?”

Cowok itu ––Laza–– mengangguk lalu duduk di depan Kinar. “He-eh. Lo nunggu Fayaz latian? Wow, lo tuh sahabatnya atau pacarnya sih?”

Kinar menutup buku yang sedang dibacanya sebelum menjawab pertanyaan Laza (pertanyaan yang sering banget orang-orang tanyain, sampai-sampai Kinar hafal jawabannya di luar kepala)“Gue itu sahabatnya Fayaz yang udah kayak saudara saking deketnya ama dia. Anyway, emangnya kalo mau nunggu Fayaz harus jadi pacarnya dulu ya? Heheheh.”

Laza nyengir. “Gak gitu juga sih. Gue heran aja ngeliat elo dan Fayaz yang lengkeeet banget. Kalian beneran cuma sahabatan kan?”

“Iyalah! Emangnya kenapa sih?” Kinar menatap cowok lucu ini, Laza itu merupakan salah satu cowok lucu di sekolah yang dulu sempat masuk 10 Hot Hunks @ School versi Kinar.

“Gak papa, cuma nanya aja. Hmm, Fayaz beruntung banget punya sahabat cantik kayak lo.”

Kinar menimpali. “Gue juga beruntung punya sahabat gila kayak dia. Di dunia ini jarang banget ada orang kayak Fayaz. Dia kan salah satu masuk langka dan beruntung sekali gue bisa mengenal dia.”

Apa sih hebatnya Fayaz sampai Kinar selalu happy saat bersama dia? Apa sih hebatnya cowok norak itu? Laza membatin heran. Dari awal masuk SMA, ia langsung menyukai Kinar, cewek berwajah ayu yang menurutnya punya senyum yang sangat manis. Sayang kesempatan untuk mengenal Kinar lebih jauh selalu terhalang dengan keberadaan Fayaz yang selalu ada di dekat cewek pujaannya itu.

“Nar boleh nanya sesuatu gak?”

“Boleh. Mau nanya apa Za?”

Laza menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya gak gatal. “Menurut lo Fayaz orangnya gimana? Gue mau elo jawab secara obyektif, tanpa memandang dia sebagai sahabat dekat lo.”

Kinar menaikkan sebelah alisnya. Bingung dengan pertanyaan Laza dan bingung dengan arah pembicaraan ini. “Pertanyaan lo aneh banget sih. Tapi kalo emang gue harus jawab, gue akan bilang Fayaz adalah orang yang hebat.”

“Hebat?”

“Hebat banget malah. Secara obyektif gue menilai Fayaz sebagai sosok cowok konyol yang selalu bisa bikin orang-orang tertawa. Dia juga charming, selalu jadi pusat perhatian––perhatian cewek-cewek centil maksud gue heheh–– cerdas, baik dan lucu.”

Sehebat itu? “Lo pasti sayang Fayaz ya?”

“Iyalah gue sayang dia. Fayaz tuh setengahnya jiwa gue. Dia tau semua hal tentang gue, bahkan mungkin dia orang lain ––selain keluarga gue–– yang mengenal gue dengan sangat baik. Satu kelebihan Fayaz yang sangat gue suka, dia bisa menunjukkan rasa kasih sayangnya dengan cara yang unik dan bisa membuat gue tersenyuh. Intinya Fayaz penting banget buat gue.” Kinar menjelaskan panjang lebar, lengkap dengan ekspresi wajah penuh kebanggaan

“Eh apanya yang penting?”

Tiba-tiba Fayaz muncul, duduk disamping Kinar dengan tubuh bermandikan peluh. “Hei Za! Eh basket gimana? Kayaknya ketua kita ini jor-joran banget mempersiapkan tim sekolah buat basket cup tahun ini.”

“Gitu deh Fay, sesekali pengen lah dapetin piala, bosen jadi tim penggembira terus.” Laza menjawab singkat, ia meminum Aqua-nya sampai habis lalu bangkit dari kursi. “Eh, gue cabut dulu ya! Yok Fay. Nar, thanx yah buat ceritanya.Bye.”

 Laza berjalan meninggalkan kantin.

“Tadi cerita apa aja ke Laza?” Fayaz bertanya sesaat setelah Laza pergi.

“Gak cerita apa-apa. Udah yuk pulang. Nanti malam gue kerja sekaligus ketemu Aira di Pratz, otomatis dong gue harus tampil ekstra cantik di depan pangeran pujaan gue itu.”

Kinar menyandang  tas, lalu berjalan duluan, ninggalin Fayaz.

Fayaz menyusulnya dengan wajah penuh senyum. “Kayaknya tadi gue dengar seseorang muji-muji gue dan bilang ke Laza kalo sahabatnya itu penting banget buat dia. Sahabatnya itu juga suka mengekspresikan kasih sayangnya dengan cara yang unik. Siapa tuh?”

Kinar blushing, malu opininya tadi didengar Fayaz.

“Hahahaha akhirnya elo mengakui betapa pentingnya gue di kehidupan lo.”

Kinar gak berkomentar, ia mempercepat langkahnya tanpa menoleh ke belakang. Fayaz berjalan di belakang Kinar sambil tertawa keras banget.

 

***

 

-Malam Harinya @ Pratz Bookstores-

Pratz Bookstores adalah sebuah book store bergaya urban metropolis yang terletak di bilangan Pondok Indah. Meski namanya belum seterkenal Aksara atau Gramedia, book store ini memiliki banyak kelebihan yang membuatnya menjadi satu tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi.

Kinar telah menjadi pegawai freelance di Pratz sejak 8 bulan lalu. Kebetulan Ibu Frida––pemilik Pratz–– adalah teman SMA Ibu Kinar, jadilah ia diberi kesempatan owner Pratz ini untuk bekerja 2x seminggu di book storenya ini.

“Eh Nyet udah sampe nih. Entar pulang ada tumpangan kan?” Fayaz mengantar Kinar sampai di parkiran Pratz.

“Yeah. Tumpangan? Gampang lah. Kalo nanti gue gak bisa nebeng Andro, palingan gue pulang naik angkot.”

“Jangan naik angkot deh. Kalo nanti elo gak bisa nebeng Andro, lo telfon gue yah, nanti gue jemput.”

“Gak usahlah. Gue naik angkot aja. Fay, gue bisa kok pulang sendiri.”

Fayaz mencubit pipi Kinar. “Bandel banget sih lo. Pokoknya elo harus telfon gue dan gue bakalan jemput elo. TITIK.”

“Ya udahlah terserah lo aja.” Kinar menyandang tas-nya lalu turun dari Audi Fayaz. “Makasih ya Sobh. Nyetirnya pelan-pelan, gak usah ngebut.”

Fayaz tersenyum. “Anytime Miss. Met kerja yah. Bye.”

Setelah Audi Fayaz pergi, Kinar segera berjalan memasuki Pratz, siap memulai pekerjaannya.

Petang ini Pratz cukup sepi, maklumlah hari Senin, awal minggu baru yang selalu membuat sibuk. Kinar menyapa Andro dan Nena yang sedang bertugas di kassa baru kemudian masuk ke office untuk menaruh tas dan memakai vest khusus pegawai Pratz. Setelah itu Kinar menghampiri Dahl yang sedang menyusun buku-buku di display.

“Hei Nar, ternyata kamu udah datang. Udah lama?”

Kinar yang sedang ngobrol dengan Dahl cepat balik badan. Ia surprised melihat cowok ganteng berlabel AIRA HARNOVA yang hari ini terlihat oke banget dengan white polo shirt yang melekat di body yummy-nya. “Hei Mas, aku baru aja dateng.”

“Berangkat sama siapa?” Aira memulai percakapan.

“Tadi diantar Fayaz, sahabat terkasihku yang kadang-kadang merangkap jadi supirku juga heheheh,” Kinar mencoba melucu, berusaha meredakan gemuruh jantungnya yang selalu timbul saat ia berdekatan dengan pangeran pujaannya ini. “Tumben Mas ada di sini. Biasanya sibuk berkelana di tempat-tempat gaul Jakarta bareng para AGJ.”

Aira tersenyum. “Gue bosen jalan-jalan mulu. Mending gue di sini, bantu-bantu nyokap dan ngobrol sama kamu.” Aira mulai aksi flirting-nya.

Kinar tersipu, satu kelebihan Aira yang sampai saat ini sangat disukai Kinar adalah ia sangat sering bertutur kata manis yang membuat hatinya bersorak-sorak kegirangan, beda banget dengan Fayaz yang selalu cablak dan ceplas-ceplos.

“Nar kenapa sih kok kamu mau kerja di sini? Ehm, maksud gue jarang gitu ada anak SMA yang mau kerja dan cari duit kayak kamu gini.”

“Aku mau cari pengalaman.” Kinar berkata mantap. “Aku mau buktikan ke orang-orang kalau aku bisa mandiri dan bisa dapet uang dengan jerih payahku sendiri ––walaupun hasilnya gak banyak-banyak banget­–– aku juga mau cari kegiatan lain di luar kegiatan sekolah. Alhamdulillah sejauh ini aku bisa enjoy dengan pekerjaanku ini.”

“Wow, nyokap pasti senang dan bangga punya pegawai yang berdedikasi tinggi seperti kamu.”

Kinar nyengir. “Berdidikasi tinggi? Aku? Hahaha ngaco deh.”

“Loh? Kok ngaco? Gue serius loh. Gak banyak cewek 17 tahun yang punya semangat dan pemikiran kayak kamu.”

Pipi Kinar dengan otomatis memerah mendengar pujian Aira itu.

“Anyway nanti mau pulang bareng gak?”

Kinar menggangguk dengan pipi yang semakin memerah. Malam ini ia bahagia sekali.

***

Kinara

Aira = pangeran pujaan gue

Gue benar-benar jatuh cinta ama si bang ganteng itu! Duuuuuh ternyata jatuh cinta benar-benar nikmat rasanya. Jatuh cinta mengakibatkan semangat membara, wajah penuh tawa ceria dan yang pasti membuat orang tergila-gila (aiiiih bahasa gue dangdut banget ya? hehehhe)

Wajar banget sih kalo gue suka Aira. Gue tau di dunia ini gak ada orang yang sempurna, tapi di mata gue sosok Aira keliatan begitu sempurna. Aira itu ganteng berat! Mukanya tuh campuran ganteng, lucu, manis, asem, asin, ––lah? Aira ini orang atau permen? –– Aira juga tinggi, punya body yang sangat-sangat bagus dan dia juga punya senyum maut yang selalu sanggup membuat gue meleleh di tempat.

Mau tau kelebihan Aira yang lain?

Aira itu perhatian, lembut, dewasa, charming, romantis, gaul abis dengan teman-teman segambreng yang tersebar di seantero jagad dunia gaul Jakarta.

Intinya gue tergila-gila dengannya.

Ouwh! Aku jatuh cinta

***

8 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://kusukasaku.blogsome.com/2007/06/09/bab-satu-novel/trackback/

  1. Qi, ceritanya lucu lho. pas baca aku langsung suka sama Fayaz, ntah knapa..dan jadi pengen liat si mas Aira..hehehe..diterusin ya Qi ^^ take care.

    Comment by cici meiggy — June 9, 2007 @ 12:18 pm

  2. Qi, ceritanya lucu lho. pas baca aku langsung suka sama Fayaz, ntah knapa..dan jadi pengen liat si mas Aira..hehehe..diterusin ya Qi ^^ take care.

    Comment by cici meiggy — June 9, 2007 @ 12:19 pm

  3. hihi. ceritanya baguss. jadi pengen tau lanjutannya.
    semangat ya Qi!!

    Comment by virna — June 10, 2007 @ 8:19 am

  4. ceritanya bagus. jadi penasaran (terutama Laza) mau tau kelanjutannya .. semangat ya Qi!!

    Comment by virna — June 10, 2007 @ 8:21 am

  5. haqi ! ceritanya bagus. cant wait to read the next chapter! ;)
    ayo dilanjutin! tapi knapa tokoh fayaz model yang ganteng hampir sempurna gtu lagi? huhu. tapi tak apa. I’m still curious how the story goes :)

    Comment by citra — June 12, 2007 @ 6:04 pm

  6. haqii, oke banget deh novelnya! cuman ya ada beberapa yg salah tulis aja, coba loe baca2 ulang deh. jujur, bikin gw penasaran nih bacanya. terusin sampe abis ya! good luck sob. xp

    Comment by nadine — June 17, 2007 @ 8:22 am

  7. haqi ceritanya bagus lho,,,,
    walopun yah mungkin karena br dikit jd kl gw sih lbh suka ama gula2 kapas,,,
    tp overall critanya bagus,,,
    oh iya thank you ya bwat pujianya,,,,
    sbgi anak tarq gw merasa tersanjung lho,,,
    ternyata menurut lho anak tarq segitu oke nya,,,
    hahahahahahaah,,,,,
    yasudlaw,,,
    pokonya smangat yah bwat lanjutannya,,,,
    aurevoir

    Comment by ata — June 18, 2007 @ 8:27 am

  8. meski stereotip novel kebanyakan banget settingannyah, tapi asik juga nih! keep up the good work guys. :) eniwei, met kenalan yah. :)

    Comment by fikri69 — November 2, 2007 @ 11:23 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.