June 13, 2007

Bab 2

Filed under: novel


DUA


 

"Udah dong Nyet jangan kebanyakan senyum. Eneg gue ngeliatnya."

"Bawel! Lo kok gak bisa banget sih liat gue seneng?"

"Loh? kok elo jadi marah?"

"Ya iyalah gue marah! Bete gue dibawelin terus sama lo."

Sore itu lagi-lagi Kinar dan Fayaz adu mulut. Awalnya sih Fayaz sengaja main ke seberang rumahnya untuk cerita-cerita dengan Kinar. Tapi ujung-ujungnya mereka malah berantem dan Kinar ninggalin Fayaz sendirian di teras rumahnya.

Fayaz cepat menyusul Kinar yang masuk ke rumah dan berjalan ke dapur. "Duh kok elo ninggalin gue sih? Tega banget."

Kinar diam, ia membuka kulkas dan mengambil minuman.

"Yaelah Kinara sahabatku tercinta, jangan diam gitu dong. Gue kan ke sini buat dengerin cerita lo. Ayo dong cerita, katanya mau cerita. Pasti cerita soal Aira ya?"

Mendengar nama Aira disebut, Kinar mendadak tersenyum. "Makanya lo jangan rese! Capek tau punya sahabat rebek kayak lo."

Fayaz ikut tersenyum, dirangkulnya Kinar brotherly. "Heheh, ayo sini-sini cerita. Semalam gimana? Cieeeh yang pulang diantar cowok pujaan hati." Fayaz duduk di kursi, Kinar ikut duduk disebelahnya.

"Sumpah gue makin cinta Aira. Dari hari ke hari dia makin oke aja."

Fayaz menatap Kinar. "Ki lo tau gak, gue masih heran elo bisa suka ama cowok 22 tahun kayak Aira yang lebih tua 5 tahun dari lo."

Kinar meneguk minumannya. "Memang kenapa? Beda 5 tahun itu ideal untuk membina sebuah hubungan yang baik. Ya kan? Ya doong."

"Membina sebuah hubungan? Alah gaya lo!" Fayaz menoyor kepala Kinar. "Yang bikin gue heran, gak biasanya elo suka cowok sejenis Aira."

"Cowok kayak Aira? Maksudnya?"

Fayaz mengambil nafas sejenak sebelum berbicara. "Ki, pertama Aira itu udah 22 tahun. Kedua Aira itu ––keliatannya –– bukan cowok cerdas. Ketiga Aira itu tipikal cowok gaul dengan pergaulan gemerlapya yang pasti gak elo banget. Dan keempat gue yakin Aira itu cowok romantis."

"Loh? Memang kenapa?"

"Ini tuh gak kayak biasanya Ki. Pertama elo pernah bilang gak mau punya pacar yang perbedaan umurnya sama lo lebih dari tiga tahun. Kedua elo selalu suka cowok smart. Ketiga elo gak suka cowok gaul. Dan keempat elo benci cowok romantis."

Kinar menatap Fayaz penuh keheranan. Gak menyangka Fayaz akan berkata demikian. "Gue salah? Aneh kalo sekarang gue suka Aira?"

Fayaz menggeleng. "Gak salah. Gue cuma heran aja, gak biasanya elo mau pacaran dengan cwok yang beda dari tipe pacar-pacar lo sebelumnya."

"Aira bukan pacar gue."

"At least elo suka dia dan mau dia jadi pacar lo kan?"

Kinar diam. Ia lebih memilih untuk menjawab di dalam hati saja. Fayaz benar, Aira memang beda sekali dari cowok-cowok lain yang pernah menjadi pacar Kinar atau sekedar menjadi cowok yang Kinar suka.

Pacar pertama Kinar namanya Enrico. Kinar kepincut Enrico karena cowok ini sangat cerdas tapi pemalu dan gak banyak tingkah. Pacar kedua Kinar, Bima, si cowok cuek yang punya otak encer dan sama sekali gak romantis. Deretan cowok-cowok yang disukai Kinar kebanyakan cowok pintar yang bukan anak gaul dan cenderung cuek. Kalau melihat ciri-ciri itu otomatis Aira gak masuk hitungan!

Aira yang teramat sangat gaul, perhatian banget dan romantis. Kinar tidak pernah menjudge Aira bodoh, tapi pada kenyataannya cowok ini memang gak pintar, kuliahnya yang sudah mengulang dua kali karena IPK yang kurang mungkin bisa dijadikan patokan untuk menilai kualitas otak Aira.

"Ya elah si monyet kacrut ini lagi. Lo gak bosen main ke sini mulu?" Kei ––abang Kinar –– keluar dari kamar dan menggeplak bahu Fayaz.

Fayaz nyengir. "Gue gak akan pernah bosen main disini. Lagipula adik lo yang cantik ini gak bisa hidup tanpa gue Kei."

"Tai. Gaya lo!" Kei mengambil sekaleng Pepsi dari lemari es dan langsung meminumnya. Pandangan Kei beralih ke Kinar. "Dek, Ibu belum pulang?"

"Belum Mas, tadi sih Ibu telfon katanya mau belanja dulu di Carefour dan pulang agak malam. Mas Kei, entar bentuin aku masak buat makan malam ya. Okey?"

"Sip. Eh kunyuk pulang gih. Bosen gue ngeliat muke lo." Kei mengusir Fayaz.

"Gak ah. Gue mau disini aja. Ikutan masak dan makan malam disini."

Kei menoyor kepala Fayaz. "Dasar kucrut gak tau diri. Amit-amit gue punya tetangga kayak lo."

***

 

@ Starbucks Citos

Fayaz duduk sendirian di salah sati kursi bagian luar kedai kopi ini sambil menikmati segelas Frapuccino Caramel favorinya. Ia sendirian, duduk, minum dan ngeliatin orang yang mondar-mandir di Citos malam ini. Tadinya Fayaz sempat mengajak Kinar, tapi sobat lengketnya yang gak suka ke mall itu serta merta menolah ajakannya. Jadilah sekarang Fayaz duduk sendirian, cengo kayak orang bego.

Faryandra Azhar a.k.a Fayaz adalah seorang pemuda 18 tahun, kelas XI IPA di sebuah SMA negeri di daerah Jakarta Selatan. Hampir semua orang yang mengenalnya berpendapat bahwa Fayaz itu konyol, suka becanda, rame dan jarang bisa serius. Gak banyak yang mengetahui kalau cowok ganteng ini memiliki sifat melankolis dan sangat rapuh saat bersangkutan dengan masalah keluarganya.

Cuma Kinar beserta keluarganya yang tau masa-masa rapuh Fayaz 1 tahun lalu saat Papa dan Mama bercerai dan bertengkar hebat dalam membagi hak asuh Fayaz dan Ririe ––adik semata wayang Fayaz yang duduk di kelas 2 SMP –– Walau pada akhirnya hak asuh anak dimenangkan Mama dan Papa memilih untuk tinggal sendiri di apartment, kesedihan, kemarahan dan trauma atas perceraian itu tidak akan pernah bisa dilupakan Fayaz.

Beruntung Fayaz punya Kinar beserta Kei, Om Adi dan Tante Mira yang sangat memperhatikannya dan Ririe, seolah mereka berdua juga bagian dari keluarga bahagia itu.

"Hei Faryandra!"

Fayaz tersadar dari lamunannya. Refleks ia menoleh ke sisi kanan. Fayaz sempat terkejut saat melihat cewek cantik memakai t-shirts Tinkerbell yang baru saja menyapanya.

Samira

Mantan pacarnya yang terakhir dan baru putus sebulan lalu setelah jadian cuma 2 bulan 3 minggu

Mantan pacarnya yang paling cantik dan nyaris tanpa cela.

"Hei Mi. Lo sama siapa?" Fayaz dan Samira bercipika-cipiki.

"Gue bareng Adisy, Kiko, Tatha, Lala, hehe biasalah cewek-cewek. Lo? Sendirian aja Fay?"

"Ya. Lagi pengen sendirian nih hehehe. Anyway apa kabar? Baik-baik kan?"

Samira tersenyum. "Fine. Yeah, walau masih sakit hati karena diputusin Faryandra Azhar gue tetap OK kok, hehehe."

"Dudul ah. Jadi masih sakit hati nih ceritanya?"

"Enggaklah Fay. Buat apa juga sakit hati mulu? Kan masih banyak cowok selain elo." tukas Samira, ia melirik ponselnya yang dikirimi 1 SMS baru. "Fay gue cabut duluan yah. Eh jangan sombong-sombong dong ama mantan lo yang cantik ini. Nice to meet you dude! Bye."

Samira mengecup sekilas pipi Fayaz sebelum berlalu meninggalkan Starbucks.

Sepeninggal Samira tiba-tiba ponsel Fayaz berbunyi. Ada telfon masuk, dari Kinar. Fayaz cepat menjawabnya

Fayaz = Kenapa Jelek?

Kinar = Eh Nyet cepat pulang! Udah jam setengah sepuluh gini masih aja berkeliaran di Citos

Fayaz = Nanti ah. Gue belum puas cari ‘ikan’ disini. Belum ada yang nyangkut.

Kinar = Sekalian aja lo ke Muara Angke! Disana pasti lo dapat banyak ikan

Fayaz = Ogah! Gue gak suka gadis penjual ikan, bau amis sih! Gue lebih suka gadis kosmopolitan yang hobi jalan-jalan di Citos.

Kinar = Ih udah deh jangan mancing mulu! Buruan pulang

Fayaz = Memangnya kenapa gue harus pulang sekarang?

Kinar = Sekarang mendung Fay, kayaknya sih bakalan hujan besar. Udah deh gak usah banyak tanya. Cepetan pulang sebelum hujan

Fayaz = Iya-iya cerewet banget sih

Kinar = Nyetirnya ati-ati, jangan lupa pake sit bealt

Fayaz = Sip. Beres

Kinar = Bye

Setelah telfon ditutup Fayaz segera meninggalkan Starbucks, berjalan ke J.Co untuk membeli 2 lusin donat, satu lusin untuk Ririe dan satu lusin untuk Kinar, setelah itu ia meninggalkan Citos dan pulang.

 

***

 


Fayaz


2 orang terpenting dalam hidup gue adalah Ririe dan Kinar

Gue sayang Kinar sebagai sahabatnya yang gak bisa lepas dari dia.

Gue sayang Ririe sebagai kakak semata wayangnya yang bertanggungjawab mengganti peran bokap di rumah setelah bonyok gue cerai.

Sampai sekarang gue masih gak mengerti dengan keputusan bonyok untuk berpisah. Hellow mereka lupa kalau pernikahan itu sesuatu yang sakral dan suci? Kenapa bonyok tega mengotori kesakralan itu dengan perceraian yang disebabkan oleh 1 alasan bodoh = perselingkuhan.

Gue mungkin bisa mengerti sikap khilaf bokap yang punya cewek kuliahan sebagai pacar simpanannya

Tapi gue gak bisa mengerti sikap nyokap yang juga ikut-ikut memelihara brondong buat membalas ulah khilaf bokap

Bonyok gue gila.

Kenapa sih mereka egois banget? Kenapa sih mereka cuma mentingin ego masing-masing? Kenapa sih mereka gak mikirin dampak perceraian ini buat gue dan Ririe? Kenapa juga mereka adu ngotot memperebutkan hak asuh anaknya dan berasa kayak mereka orang tua paling care sedunia akherat?

Sejak bonyok cerai respek gue ke mereka meluntur

Sejak bonyok cerai gue menganggap mereka sebagai manusia dewasa dengan pemikiran dan kelakuan layaknya anak kecil.

Sejak bonyok cerai gue makin sayang Ririe

Sejak bonyok cerai gue jadi ngeri dan takut dengan pernikahan.

Buat apa menikah kalau ujung-ujungnya kayak mereka?

 

***

 

"Role model?" Fayaz mengernyitkan kening. Ia 100% heran dengan topik yang diangkat Kinar di obrolan sore kali ini. Sore ini gantian Kinar yang bertandang ke rumah Fayaz, mereka berdua duduk di kursi taman yang nyaman di dekat swimming pool, mengobrol dengan ditemani jus melon segar buatan Kinar dan donat J.Co yang semalam dibeli Fayaz.

"He-eh role model. Pernah dengar kan?" Kinar mengubah posisi duduknya sehingga lebih rileks.

"Pernah sih tapi gue gak ngerti banget arti role model yang benar kayak apa."

"Gue baca di majalah, role model itu adalah seseorang yang dijadikan panutan oleh orang lain. Seorang role model harus inspiring, bisa memberikan pengaruh positif ke orang yang lain dan yang pasti role model itu harus punya kepribadian yang oke."

Fayaz manggut-manggut. "Jadi semacam tokoh panutan gitu?"

"Yap! So siapa role model lo?"

Fayaz berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab. "Gue bingung ah. Lo duluan deh Ki. Siapa aja yang lo jadikan role model?"

"Gue punya banyak role mode. Yang pertama pastinya Ibu, dia tuh wanita paling hebat yang pernah gue kenal, she’s great mom! Yang kedua Ayah, gue sangat bersyukur bisa punya bokap yang unik dengan cara mendidik anak plus cara memimpin keluarga yang selalu gue suka. Ketiga Mas Kei, selain penyayang, pintar dan mandiri, gue kagum banget dengan banyaknya keahlian yang dia punya." Kinar berhenti sejenak sebelum melanjutkan omongannya. "Keempat Faryandra Azhar, sahabat paling pengertian sejagad raya yang selalu bisa membuat gue kagum dengan segala kehebatannya. Selain 4 nama itu masih banyak banget orang-orang hebat yang juga gue jadikan role model macam Oprah, JK Rowling, Natalie Portman, RA Kartini, Nia Dinata, Deddy Mizwar, Sitta Karina, Dian Sastrowardoyo, Christine Hakim."

"Banyak banget sih" Fayaz memotong

"Tunggu dulu, gue belum selesai. Nabi Muhammad, Budha, ilmuwan, filsuf, penulis, wartawan, sineas film pastinya juga masuk di daftar role model seorang Kinara Cempaka."

Fayaz mencubit hidung Kinar. "Lo maruk banget sih. Memangnya harus banyak-banyak ya?"

Kinar manyun. "Terserah gue dong. Eh udah untung nama lo gue cantumkan di daftar itu." Kinar mendadak jadi jutek. "Lo gimana? Siapa sih yang dijadikan role model biang narsis kayak lo?"

"Crayon Shinchan."

"Hah? Ih gue serius Fay. Kok Crayon Shinchan sih? Alasannya apa?"

"Alasannya? Karena Shinchan itu punya tarian pantat yang menggemaskan." dengan asalnya Fayaz menjawab.

Kinar makin manyun. "Gak ada nama lain selain Shinchan?"

"Ada dong!" wajah ganteng Fayaz jadi sok misterius. "Namanya Kinara Cempaka. Cewek hebat dengan otak cerdasnya yang selalu bikin gue kagum. Dengan sifat mandiri, organized, perfeksionis, rapih, rajin dan cerewetnya yang selalu bikin gue iri. Dia selalu bikin gue kagum dengan pendapat-pendapat cerdasnya. Dia selalu bikin gue bangga dengan semua mimpi-mimpi dan cita-cita mulianya. Dia selalu bikin gue tertawa dengan keahlian ngambeknya dan dia selalu bikin gue nyaman dengan perhatian dan kasih sayangnya yang tulus."

Kinar mengulum senyum, terharu. "Thanks Fay, gue terharu."

"Lah? Emangnya gue bilang role model gue itu elo? Maksud gue tuh bukan Kinara Cempaka yang ini. Yang gue maksud adalah Kinara Cempaka si penyanyi dangdut yang kemarin baru aja meluncurkan album dangdutnya yang judulnya Kucing Meong." Fayaz mulai becanda, wajahnya cengengesan seperti biasa.

Kinar buang muka. Kesal

 

***


Saturday Morning


Aira = Pagi cantik

Kinar = Pagi ganteng ehehehe. Ada apa Mas pagi-pagi nelfon?

Aira = Gak papa sih, cuma iseng aja. Kamu lagi ngapain?

Kinar = Barusan selesai jogging bareng Fayaz. Sekarang lagi bantu Ibu bikin nasi goreng untuk sarapan. Mas lagi apa?

Aira = Baru aja banugung nih. Sekarang masih tidur-tiduran di kasur. Nar, nanti malam ada acara gak?

Kinar = Enggak ada. Memangnya kenapa?

Aira = Mau nonton?

Kinar = Nonton apa? Dimana?

Aira = Terserah kamu.

Kinar = Okey aku mau asalkan gak pergi ke mall hehehe

Aira = = Iya babe, suit your self ajalah. Nanti jam 5 aku jemput yah

Kinar = Okey

Kinar senyam senyum kayak orang gila. Ia happy banget karena sekarang, tepat jam 08.02 Aira menelfonnya dan mengajaknya nonton! Apa ini kencan pertama? Apa ini tanda-tanda akan ada kemajuan di hubungan gue dan Aira? Senyum Kinar makin lebar, imajinasinya terbang melayang.

"Duh anak Ibu yang paling cantik ini. Ada apa nih pagi-pagi kok senyum-senyum sendirian?" Ibu bertanya sambil menghidangkan nasi goreng di piring.

"Ada deh. Mau tau aja." Kinar mengulum senyum lalu membantu Ibu membawa piring ke meja makan

Ibu duduk di kursinya. "Pasti karena Aira telfon kamu ya? Duuuh Ibu ngerti deh jatuh cinta memang berjuta rasanya."

"Siapa Bu yang jatuh cinta?" Ayah bergabung di meja makan masih dengan muka bantal.

"Kinar sedang jatuh cinta, Dia tergila-gila sama Aira, si ganteng anaknya Indria, temanku yang punya Pratz."

"Aira yang suka mengantar Kinar pulang itu?" Ayah mulai menikmati nasi gorengnya.

Kinar mengangguk dengan pipi yang mulai memerah. "Iya Yah Aira yang itu. Udah ah jangan ngomongin Aira. Aku malu nih."

"Ya udah. Eh ngomong-ngomong Kei mana? Kok gak ikut sarapan?"

"Mas Kei masih tidur, semalam kan dia begadang nonton bola. Aku tadi udah bangunin tapi dia gak bangun-bangun juga." Kinar juga mulai menikmati sarapannnya masih dengan fikiran yang melayang ke sosok Aira. Senyum kecil sesekali menghias bibirnya saat imajinasinya tentang kencan nanti malam dirasa terlalu liar dan gak masuk akal.

Selesai sarapan dan mencuci piring Kinar masuk ke kamarnya dan langsung membongkar isi lemari. Malam ini Kinar mau tampil ekstra cantik di depan Aira. Ia ingin terlihat mempesona di mata pangerannya itu. Setelah ngoprek isi lemari selama setengah jam akhirnya Kinar menemukan outift yang cocok untuk date pertamanya.

White dress + Jeans + Yellow Flat Shoes + White Cluth Bag + Bando Kuning

Simpel, cute dan Kinar banget

"Dek lagi ngapain? Gue boleh masuk gak?" Kei bertanya dari balik pintu.

"Bentar Mas!" Kinar cepat memasukkan semua isi lemarinya baru kemudian membuka pintu kamar.

Kei berdiri di muka pintu degan muka heran. "Kenapa lo kok keringetan gitu? Tadi ngapain dulu sih? Kok lama banget bukain pintunya?" Kei nyelonong masuk ke kamar Kinar dan duduk di sofa.

"Aku tadi lagi beres-beres lemari. Eh ada apa Mas? Tumben jam segini Mas udah bangun, biasanya Sabtu gini bangunnya jam 12."

"Gak ada apa-apa sih. Iseng doang. Dek, Aira apa kabar?"

Kinar duduk disamping Kei. "Dia baik-baik aja. Kenapa emangnya?"

"Lo harus hati-hati sama Aira."

Kinar mengangkat sebelah alisnya, bingung dengan kata-kata Kei itu. "Hati-hati? Kenapa aku harus hati-hati? Memangnya Aira kenapa? Dia baik kan?"

"Dek gue bilang elo harus hati-hati, gue gak pernah bilang Aira jahat."

"Tapi kenapa aku harus hati-hati? Aira kan baik."

Kei tersenyum lalu membelai rambut Kinar lembut. "Kinara, sikap hati-hati dan waspada harus selalu lo terapkan ke semua orang. Dek gak ada orang yang pernah tau sifat orang lain yang sebenar-benarnya selain Tuhan. Gue bukannya menyuruh elo untuk berprasangka buruk ke orang lain. Gue cuma minta elo berhati-hati dan waspada dengan segala kemungkinan."

"Kemungkinan?" Kinar masih belum mengerti

"Yap. Kemungkinan. Mungkin aja ada orang jahat yang pura-pura baik. Mungkin aja ada orang baik yang jadi jahat. Mungkin aja ada orang brengsek yang sok manis. Mungkin aja ada orang yang terlihat perfect tapi sebenarnya bobrok banget. Banyak banget kemungkinan Dek."

Kinar mulai mengerti arah pembicaraan ini. "Aku ngerti Mas. Thanks sarannya."

"Gue mau elo bisa melihat dunia lebih luas. Gue mau elo gak cuma ngerasain yang manis-manis aja, tapi juga yang pahit biar elo bisa belajar dan lebih tahan banting. Masih mau jadi super woman kan?"

"Iya dong. Menjadi super woman adalah salah satu cita-citaku."

"Lo pasti bisa. You go girl."

Kinar tersenyum, senang dengan perhatian yang selalu ditunjukkan abang tersayangnya ini. Buat Kinar, Kei adalah salah satu orang yang selalu dapat menjadi motivatornya ––selain orang tua dan Fayaz ––

Umur Kei baru 24, ia telah mengantongi gelar sarjana S1 Ekonomi UI dan sekarang sedang menempuh jenjang S2 di universitas yang sama sambil bekerja sebagai akuntan di salah satu company yang sangat bonafit di Jakarta.

Kei adalah makhluk serba bisa. Sepertinya semua hal bisa dikerjakan cowok ini. Kuliah oke, kerja oke, ia punya band beraliran techno jazz yang cukup sering manggung di cafe, jago banget design, jawaranya olahraga, sempat jadi guru bahasa Inggris, ngerti banget otomotif, pengetahuannya luas banget dan Kei juga jago banget menggaet cewek-cewek berkualitas dengan paduan fisik dan kepribadian yang mengagumkan.

Sudah setahun Kei berpacaran dengan Mutiara Dyaningtyas, model papan atas yang tengah naik daun dan menjadi model favorit para designer macam Adjie Notonegoro, Ichwan Toha, Sebastian Gunawan, Biyan dll. Tidak hanya cantik dan seksi, sosok Muti hadir sebagai wanita berkepribadian baik yang membuat semua orang menaruh respek padanya.

"Mas, Mbak Muti gimana kabarnya? Kemarin aku lihat di infotainment, katanya Mbak Muti main film bareng Luna Maya dan Nicholas Saputra. Wow hebat banget."

"Begitulah. Akhir-akhir ini gue jarang bisa bertemu Muti. Kesibukannya padat banget dan Muti emang sedang giat-giatnya berkarier. Yeah walau waktu untuk berdua menjadi semakin berkurang, sebisa mungkin gue dan Muti harus selalu berkomunikasi."

Kinar mendengarkan omongan Kei itu dengan binar bahagia di wajahnya. "So kapan kawin?"

Kei tergelak. "Huahaha pertanyaan lo sama aja kayak wartawan-wartawan infotainment yang selalu memburu Muti. Dek, menikah itu gak main-main, perlu banyak persiapan serius dan matang untuk menuju ke sana. Mas dan Mbak Muti belum siap dan belum mau mikirin itu."

"Btw Mas Kei dan Mbak Muti udah ngapain aja? Cerita-cerita dong ke aku." Kinar bertanya dengan ekspresi lucunya.

Kei geleng-geleng kepala sambil nyengir. "Dek lo diajarin apa ama Fayaz ampe lo jadi bokep juga kayak dia?"

 

***

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://kusukasaku.blogsome.com/2007/06/13/bab-2-novel/trackback/

  1. Qi, mau lanjutannya..hehehe..
    ceritanya tambah bagus Qi..
    enak dibacanya ^^

    Comment by cici meiggy — June 14, 2007 @ 2:13 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.