TIGA
Malam ini adalah malam minggu yang paling membahagiakan untuk Kinar. Di malam yang indah ini, untuk pertama kalinya ia dan Aira pergi bermalam minggu layaknya sepasang kekasih. Setelah tadi nonton di 21 Setiabudi, kini mereka berdua sedang makan malam di Empire Grill yang terletak di Menara Imperium.
“Nar, makasih yah malam ini udah mau aku ajak pergi.” Aira berkata lembut, matanya lekat menatap Kinar yang malam ini tampak sangat cantik.
“Harusnya aku yang berterimakasih karena Mas Aira mau repot-repot mengajak aku pergi.”
“Siapa yang repot? Gak akan ada kata repot untuk kamu.” Lagi-lagi Aira berkata dengan intonasi lembut yang memabukkan. “Sekolahmu gimana? Lancar-lancar aja kan?”
Kinar mengangguk cepat. Matanya berbinar bahagia dan ’segar’ melihat penampilan simple tapi fashionable-nya Aira yang kali ini memakai white shirts + black vest + belel jeans + white Adidas shoes. “Belakangan ini aku sibuk banget. Sibuk belajar karena 2 minggu lagi sudah ulangan blok. Sibuk bareng tim OSIS menyiapkan pensi an juga sibuk di kelas persiapan Olimpiade akuntansi. Capek sih tapi seru banget.”
“Olimpiade akuntansi?”
“Iya. Kenapa? Heran ya cewek sebodoh aku ikutan olimpiade?”
Aira tertawa. “Hei, gak ada cewek bodoh yang bisa ikut olimpiade akuntansi. Hanya orang pintar seperti kamu yang layak dan mampu ikut olimpiade macam itu.”
“Aku hoki bisa lolos seleksi untuk mewakili sekolah. Mas, aku gak sepintar yang orang-orang bayangkan.”
“Kata siapa? Buatku seorang Kinar gak cuma cerdas, dia juga dewasa, hebat dan berfikiran maju.”
Otomatis pipi Kinar memerah. Entah kenapa setiap kata yang dilisankan Aira selalu mampu membuahkan percikan bahagia yang menyenangkan.
“Say nanti kuliah jadi ambil ilmu komunikasi? Masih mau jadi jurnalis?”
“Duuuh aku juga bingung. Akhir-akhir ini aku malah bingung mau milih ilmu komunikasi, sastra Inggris atau filsafat. Tapi yang pasti aku masih mau banget jadi jurnalis, penulis dan editor in chief sebuah majalah.”
“Ckckck banyak banget. Aku yakin seyakin-yakinnya kamu pasti bisa meraih semua cita-citamu itu. Pasti.”
“Ow! Makasih Mas. Aku juga berharap begitu. Kuliah Mas gimana? Baik-baik kan?”
Aira mengerang, ia enggan membicarakan kuliah di tengah suasana dan atmosfer indah bersama Kinar. Baginya kuliah adalah subyek pembicaraan yang paling anti untuk dibicarakan. “Kuliah? Begitulah, gak ada sesuatu yang spesial di kampus Atma tercinta.”
Kinar bisa mengerti keengganan Aira untuk membicarakan kuliahnya dan ia cepat mengganti topik pembicaraan. “Btw katanya tahun ini Pratz mau buka cabang di daerah Cikini. Benar Mas?”
“Katanya sih begitu. Lokasinya gak begitu jauh dari Taman Ismail Marzuki. Kata nyokap mudah-mudahan khir tahun ini Pratz Cikini mulai dibuka.”
“Dekat TIM? Waaah strategis sekali tempatnya. Pasti seru deh kalau nanti aku pergi ke TIM dan bisa sekaligus mampir ke rumah kedua Pratz.”
Aira menyeruput minumannya. “Kamu suka ke TIM?”
“Suka banget. Aku hobi nonton di Kineforum, nonton pertunjukkan di Teater Kecil, melihat bintang-bintang di Planetarium. TIM tuh surga banget buat aku.”
“Jadi kamu lebih suka ke TIM daripada ke mall?”
“Yap! Biasanya aku ke mall cuma untuk nonton di 21 dan belanja. Aku bukan tipikal cewek yang hobi nongkrong lama-lama di mall. Biasanya aku juga gak pernah belanja terlalu lama. Aku ini simpel dan ringkas, aku gak suka muter-muter di mall untuk sesuatu yang gak pasti.”
Aira manggut-manggut. “Jarang loh remaja cewek yang suka ke tempat-tempat nyeni kayak TIM.” manik mata Aira menyiratkan kekagumannya pada Kinar. “Kamu emang bukan cewek SMA kebanyakan. Kamu beda.”
“Aku gak pernah bermaksud menjadi beda. Ini cuma masalah selera kok. Aku prefer ke TIM karena aku suka seni. Aku gak suka keramaian. Aku juga gak suka suasana metropolis bin hedonis yang ada di mall.”
“Wow aku baru tau kalau seorang Kinara gak suka gaya hidup metropolis.”
Kinar memperhatikan seperempat porsi nasi gorengnya yang masih tersisa di piring. “Bukannya gak suka. Tapi aku dan keluargaku memang lebih memilih hidup sederhana, apa adanya dan tidak bergemerlapan. Ayah dan Ibu selalu ngajarin aku berhemat dan hidup tanpa berlebih-lebihan.”
“Masing-masing orang memang beda. Dari kecil aku justru terbiasa dengan hidup metropolis bin hedonis yang kamu bilang.”
Aira itu cowok tajir dengan kehidupan metropolis di lingkungan para sosialita Jakarta.
Yang Kinar tau, hidup Aira sangat glamor dan mewah. Ayahnya seorang pengusaha di bidang real estate. Ibunya seorang wanita aktif yang juga memiliki bisnis berupa book store, salon dan lounge dengan pergaulan yang sangat luas. Gaya hidup Ibunya menurun pada Aira yang juga bergaul dengan kalangan sosialita.
Kinar sering melihat foto Aira terpampang di majalah-majalah lifestyle ibu kota. Teman-teman Aira juga gak sembarangan. Mulai dari model, selebritis, partygoers, socialite, bahkan anak pejabat! Aira juga mengenal baik Mutia Dyaningtyas yang merupakan calon kakak ipar Kinar.
“Udahlah gak usah ngomongin lifestyle. Masing-masing punya gaya yang beda kan?” Aira memilih untuk menghentikan pembicaraan ini. “Cantik, makannya udah selesai belum? Pulang yuk, udah malam. Aku gak mau kamu pulang terlalu larut.”
“Udah kok. Yuk pulang. Aku juga udah mulai ngantuk. Mas juga mau langsung pulang kan?”
“Enggaklah. Setelah mengantar kamu ke pulang palingan aku ke rumah cuma buat ganti baju, lalu cabut ke Embassy dan ngumpul bareng teman-teman.”
“Huh dasar AGJ!”
***
“Fayaz tuh ganteng banget yaa.” Nadine berucap dengan nada penuh kekaguman, matanya terkunci ke sosok Fayaz yang sedang main bola bareng cowok-cowok lain di lapangan tengah kompleks Cibubur Kenanga.
Kinar yang duduk tepat di sebelah Nadine mengernyitkan kening begitu mendengar ucapan Miss Stylish ini. “Eh? Barusan lo ngomong apa? Gue gak salah dengar kan?”
Nadine tersenyum dengan paras ceria. Sore ini ia terlihat sangat fresh dengan pink shirts yang dilapisi white cardigan, short jeans dan sandal jepit warna kuning ngejreng. “Say tetangga lo yang ganteng itu selalu bikin mata gue berbinar cerah. Astagfirullah Hal Adzim.”
“Jangan bilang elo suka si narsis gila itu.”
Nadine tersenyum lagi. “Kinar sayang, siapa sih cewek yang gak suka sama cowok cute dengan muka mirip Alex Pettyfer kayak Fayaz?”
“Hah? Alex Pettyfer? Siapa tuh?”
“Alex Pettyfer itu salah satu gorgeous actor di Hollywood. Memang sih namanya belum terlalu beken, tapi asli deh dia ganteng berat! Nah Fayaz tuh gak jauh bedalah ama Mr Pettyfer itu.”
Kinar manggut-manggut lalu menengok ke arah Fayaz.
Seperti biasa Fayaz tampak begitu bersemangat. Dengan tubuh bermandikan peluh ia berlari mengejar bola dan (seperti biasa) selalu menjadi yang terbaik dengan banyaknya bola yang berhasil ia loloskan ke gawang lawan. Harus diakui, Fayaz memang sebuah ‘pemandangan indah’ diantara cowok-cowok kompleks lainnya yang cupu-cupu.
“Nar gue boleh nanya sesuatu gak?”
“Apa?”
“Um..” Nadine terlihat sedikit ragu. “Elo kan udah sahabatan dengan Fayaz dari kecil. Hmm elo pasti tau dong tipe cewek yang disukai Fayaz.” Nadine berkata dengan volume suara yang kecil banget, suara lembutnya terdengar seperti bisikan yang menggelitik di telinga Kinar.
“Eh? Lo serius? Lo beneran suka Fayaz?” tanya Kinar dengan suara yang cukup kencang, membuat Fayaz dan cowok-cowok lainnya menoleh.
Nadine panik. Cepat ia membekap mulut Kinar. “Duuuh Nar jangan teriak gitu dong. Nanti kalo Fayaz dengar gimana?”
Kinar nyengir lucu. “Maaf Nad gue kelepasan. Asli deh gue kaget banget. Ihihihi ternyata elo juga sukses terjerat magnet pemikatnya Si Kucrut itu. Ya oloh.”
Nadine tersenyum malu-malu, matanya masih menatapi Fayaz yang semakin bersemangat membobol gawang lawan. “Abis mau gimana lagi? Nar asal lo tau yah, gue tuh udah suka Fayaz sejak gue pindah ke kompleks ini, dua tahun lalu.”
Nadine mengulum senyum, fikirannya membayang ke waktu 2 tahun lalu, saat ia baru pindah ke kompleks Cibubur Kenanga. Saat itu secara tidak sengaja Nadine melihat sosok cowok ganteng sedang duduk sendirian di taman kompleks. Sejak pertama kali melihat si ganteng ini ––yang akhirnya terdeteksi bernama Fayaz –– Nadine langsung menyukainya. Terlebih lagi saat Nadine akhirnya berteman dengan Fayaz dan mengenal kepribadiannya yang menyenangkan, ia makin jatuh hati dengan kembaran Alex Pettyfer ini.
“Udah 2 tahun? Hah kok bisa sih? Kenapa baru cerita sekarang Nad? Kalo gue tau elo suka Fayaz, udah dari dulu deh gue comblangin kalian berdua.”
“Gue malu Nar. Gue gak yakin Fayaz mau ama cewek kayak gue. Naah makanya tadi gue tanya ke elo, kayak apa sih tipe cewek yang disuka Fayaz? Gue bisa lolos seleksi gak? Hehehe.”
Fayaz dan Nadine? Hmm keliatannya cocok! Waah pasti Fayaz senang kalo Nadine yang cantik dan always stunning ini jadi pacarnya. “Gue yakin elo lolos seleksi. Nadine, lo cantik, berpenampilan oke, pinter, baik. Pastilah Fayaz suka.”
Tipe cewek Fayaz?
Setau Kinar sih Fayaz gak pernah mempunyai patokan tersendiri untuk mencari pacar. Keempat mantan pacarnya mempunyai sifat yang beda-beda tapi kesemuanya memilik 1 kesamaan = berwajah cantik.
* Fayaz’s Girls
1. Nena = pacar pertama kelas 2 SMP
-
Cantik, imut-imut, lucu kayak anak kecil, lemot, manja
-
Lama pacaran = 1 bulan 2 hari
-
Pengalaman berkesan = dengan pacar pertamanya ini Fayaz sempat sok-sok romantis dengan mengajak Nena dinner di Cafe Wien.
2. Aulia = pacar kedua kelas 3 SMP
-
Cantik banget, Finalis Gadis Sampul, sangat disiplin, cerewet
-
Lama pacaran = 6 bulan 3 minggu
-
Pengalaman berkesan = first kiss Fayaz nih! Gelar bibir perjaka Fayaz langsung tercabut saat Fayaz mencium Aulia di PIM, tepat setelah mereka merayakan 2 bulan jadian.
3. Billya = pacar ketiga kelas 1 SMA
-
Cantik, konyol, suka becanda, sedikit misterius
-
Lama pacaran = 3 bulan 3 minggu 3 hari
-
Pengalaman berkesan = Fayaz cuma dijadikan obyek pelampiasan Billya yang begitu terobsesi dengan angka 3
4. Samira = pacar keempat kelas 1 SMA
-
Cantik, punya body yang oke berat, gaul abis
-
Lama pacaran = 2 bulan 3 minggu
-
Pengalaman berkesan = Fayaz sempat adu jotos dengan Edo (mantan pacar Samira) karena Edo masih suka Samira dan gak rela mantan pacarnya itu jadian dengan Fayaz.
“So beneran nih elo mau bantu gue?”
Kinar mengangguk. “Iya dong. Tenang aja Say gue pasti akan bantu elo.”
Nadine tersenyum sumringah sambil memeluk Kinar. “Thanks Nar, mudah-mudahan aja gue dan Fayaz bisa jadian heheh.”
“Eh cewek-cewek lagi ngobrolin apa sih?”
Gak jelas kapan datangnya tiba-tiba Fayaz udah ada di belakang Kinar dan Nadine. Wajah gantengnya terlihat kemerahan, bermandikan peluh. Fayaz meneguk Aqua lalu duduk di sebelah Nadine.
“Ada deh! Mau tau aja.” Kinar menyapukan pandangannya ke lapangan kompleks yang kini telah sepi. “Fay cowok-cowok lainnya mana? Udah pulang duluan?”
“He-eh. Katanya sih pada mau nonton di Senayan City.” Fayaz melirik Nadine. “Hei Miss Nadine kok diem aja? Sariawan ya?”
Nadine tersenyum grogi. “Hei Fay. Sariawan? Engga kok heheh.”
“Nad, cewek-cewek Tarq apa kabar? Pasti makin cantik-cantik dan kece-kece deh.”
“Iya dooong. Cewek-cewek Tarakanita kan selalu cantik, kece dan oke sepanjang waktu. Nih salah satu contohnya sedang duduk disamping lo.”
Fayaz tergelak, lucu melihat gaya kenes miss stylish ini. “Ki, pulang yuk! Udah sore nih. Gue gerah banget, mau mandi.” Fayaz bangkit dari kursi, bersiap pulang. “Nad, gue cabut duluan ya. Eh jangan lupa kirimin salam gue buat semua cewek-cewek Tarq yang always kece, heheheh. Dah!” Fayaz balik badan, lalu berjalan meninggalkan lapangan kompleks.
“Nad gue pulang dulu yah. Kira-kira kapan nih misi matchmaking kita mau dimulai?”
“Terserah elo deh. Lebih cepat pastinya lebih baik.”
“Yasuw, elo tunggu aja kabar dari gue. Ntar gue sms elo deh.”
Nadine mengangguk dengan senyum dikulum, mata indahnya lekat menatapi punggung Fayaz yang semakin menjauh dari pandangannya.
***
“Tadi ngobrol apa aja sama Nadine?”
Malam ini Kinar main ke rumah Fayaz karena tiba-tiba Fayaz menelfon dan meminta Kinar main ke rumahnya buat menemaninya yang malam ini sendirian di rumah. Awalnya sih Kinar ogah menemani Fayaz, secara dia juga punya banyak banget PR yang harus dikerjakan, tapi toh akhirnya Kinar datang juga ke rumah Fayaz denganl membawa setumpuk Prnya.
“Ada aja. Girls talk, elo gak boleh tau.” jawab Kinar singkat, ia tetap serius mengerjakan PR Akuntansi.
Fayaz yang duduk di samping Kinar ––sambil mencari profil sastrawan untuk tugas bahasa Indonesia di internet–– langsung manyun begitu mendengar jawaban Kinar. “Alah ama gue aja pake sok rahasia segala. Norak lo.”
“Ih biarin aja. Pokoknya gue gak akan cerita ke elo.”
“Tau ah. Terserah elo deh.” Fayaz (sok) ngambek
Kinar nyengir lalu menoyor kepala Fayaz. “Deuu gitu aja ngambek. Eh Nyet lo dan nyokap udah gak pernah berantem lagi kan? Kalian udah akur kan?”
“Heh dodol, ngapain sih lo tiba-tiba ngomongin Emak gue? Gak penting deh.”
Kinar tidak sependapat. “Justru ini penting. Sebagai sahabat terbaik lo yang udah menemani lo mengarungi lembah kehidupan yang fana ini gue tuh wajib menanyakan hal maha penting ini.”
Fayaz ngakak. “Cih bahasa lo! Gaya bener. Kinar sayang, berantem sama nyokap tuh udah jadi makanan sehari-hari buat gue. Kayaknya hidup gue gak komplet kalo belum adu mulut dengan Nyonya Frida Indriati.”
“Ya ampun Fay gak bosen berantem terus sama nyokap? Gak baik loh kalo keseringan berantem.”
“Sekarang gue tanya ama lo, siapa sih orang yang mau berantem terus dengan nyokapnya? Tiap hari pula. Gak ada kan? Nah gue juga gitu. Gue gak mau berantem terus sama nyokap, tapi nyatanya situasi dan kondisi antar gue dan nyokap selalu gak bagus dan akhirnya membuat gw dan dia selalu ribut.”
“Fay kalo udah tau sikonnya gak baik, seharusya elo bisa nahan diri, kontrol emosi, bukannya malah melawan nyokap. Biarinlah dia mau ngomong apa.”
Fayaz tidak sependapat. “Gak bisa gitu dong Ki. Gue gak bisa gitu aja nerima semua omongan nyokap, apalagi kalo dia udah mulai melarang gue ini itu dan berasa dia orang paling benar sedunia! Ki, ini masalah prinsip dan gue gak mau seorang Frida Indriati menggugat prinsip gue hanya karena status dia sebagai nyokap gue.”
Kinar menutup buku Prnya, rasanya obrolan ini harus dibicarakan lebih serius. “Fay untuk saat-saat tertentu gak papalah elo berkompromi dengan prinsip lo. Kadang gue juga suka mengalah dan mengesampingkan prinsip gue untuk beberapa hal penting.”
“Buat gue nyokap gak penting dan gue gak mau prinsip gue dikalahin segala otoritas yang dibuat nyokap.” Fayaz bangkit dari duduknya. “Gue ke dapur dulu yah. Mau ambil makanan.”
Kinar mengangguk. Fayaz lekas berjalan ke dapur.
Masalah keluarga Fayaz memang besar banget. Orangtua Fayaz adu selingkuh, bercerai lalu berebut hak asuk anak dan sekarang Fayaz menjadi hilang respek ke orangtuanya. Fayaz jarang cerita tentang keluarganya, pasti Kinar dulu yang harus bertanya dan memaksa Fayaz untuk cerita. Justru malah Ririe yang cukup sering curhat ke Kinar dan menceritakan masalah di keluarganya.
“Ki, Kei dan Muti masih pacaran gak sih?” Fayaz sudah kembali dari dapur dan membawa sekaleng cokelat dan dua kotak jus jeruk.
Kinar menerima jus jeruk dari Fayaz. “Masih. Mereka tuh cocok banget yah. Lovely couple abis deh.”
“Yeah i know. Kei dan Muti emang cocok banget. Bikin gue iri aja.”
“Iri?”
Fayaz meminum jus jeruknya. “Iya. Iri. Abang lo beruntung banget bisa punya cewek secantik Mutiara Dyaningtyas, selebritis kondang yang cantiknya gak kalah dengan Dian Sastro.”
“Please deh Fay. Selama ini lo juga selalu beruntung dengan pacar-pacar lo yang dulu. Mereka semua kan cantik-cantik.”
“Tetap aja gue iri. Apalagi sekarang gue jomblo, makin menjadi-jadi deh iri hati gue ini.”
Kinar langsung nyengir, teringat dengan misi matchmakingnya untuk Nadine dan Fayaz. “Eh gue punya kenalan yang oke nih. Anaknya cantik, lucu, modis banget, pintar, baik, dan mungkin dia cocok sama lo.”
Muka Fayaz mendadak sumringah. “Siapa tuh cewek? Gue kenal gak?”
“Lo kenal kok, dia kan tinggal di kompleks ini juga.”
“Tinggal di kompleks ini juga? Siapa? Yang pasti cewek itu bukan elo kan?”
“Bukanlah! Cewek itu Nadine Pramandani, gadis Tarakanita yang selalu kece itu.”
Fayaz mengangkat sebelah alisnya. “Nadine? Elo mau jodohin gue ama dia?”
“Enggak kok, gue cuma bilang mungkin elo dan Nadine cocok. Lo pasti bisa menilai sendiri betapa okenya Nadine. Dia gak kalah doong dengan Nadine Chandrawinata?”
Fayaz diam. Gak bereaksi. Ia bingung mau ngomong apa, ia juga bigung dengan sikap Kinar yang tiba-tiba ‘nyodorin’ Nadine. Fayaz gak bisa bohong, sosok Nadine memang menairk dan layak banget buat dijadikan pacar. Tapi sampai sekarang hubungan Fayaz dan Nadine datar-datar aja, mereka tidak terlalu dekat. Hmm.. mungkin perlu penjajakan lebih lanjut untuk mengenal sosok Nadine?
“Kok elo tiba-tiba ngomong gini Ki? Sekarang hini deh, memangnya Nadine suka gue? Memangnya Nadine mau jalan ama gue?”
“Lo gak akan tau jawabannya kalo elo gak mau nyoba. Elo harus mulai penjajakan dulu dong Fay. Sobh, lo gak usah khawatir, sebagai sahabat yang baik gue pasti akan bantuin elo untuk dekat dengan Nadine supaya lo bisa merasakan kembali nikmatnya memadu kasih.”
Fayaz nyengir. “Bodo ah. Terserah lo aja.”
***

asoylah nama gw ada di bab 3 xP
Comment by nadine — June 18, 2007 @ 10:50 am
Haqi, bikin iri aja sih..novel gue buntu niy…bete
Comment by net — June 19, 2007 @ 7:15 am