EMPAT
Morning Dear
Nanti malam jangan kemana-mana ya
Aku mau ajak kamu dinner
Jam 7 aku jemput
love..
Aira
Kinar gak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya ketika pagi ini ia mendapat bingkisan buket mawar putih + kartu dengan kata-kata manis dari sang pangeran pujaan. Sabtu pagi yang cerah ini, Kinar berdiri di teras rumah, masih dengan daster tidurnya, berkali-kali ia hirup wangi mawar pemberian Aira itu dengan bibir yang tak henti tersenyum.
“Cieh pagi-pagi udah dapet bunga.” Fayaz yang baru selesai jogging keliling kompleks mendekati Kinar kemudian duduk di kursi teras. “Bunga dari siapa Ki? Dari Aira ya?”
Kinar mengangguk cepat lalu ikut duduk di sebelah Fayaz. “Aira romantis banget yaa. Coba lo bayangin, pagi-pagi dia udah ngirimin gue bunga plus ajakan dinner nanti malam. Sweet banget kan?”
Fayaz mengernyitkan kening, heran dengan tingkah Kinar yang dimatanya terlihat ‘’gak banget’. “Alah baru juga dikasih bunga udah kegirangan. Dasar norak.”
“Terserah lo deh. Yang pasti gue teramat sangat bahagia dengan kiriman bunga ini” Kinar mengulum senyum, matanya melirik Fayaz jutek. “Aira itu bisa memperlakukan cewek––memperlakukan gue–– dengan baik. Gak kayak elo yang selalu usil dan nyebelin.”
“Cih! Playboy kampung kayak Aira aja dibangga-banggain.”
“Shut up Faryandra! Udah deh jangan rusak kebahagiaan gue dengan mulut ember lo itu.”
Fayaz tertawa, ekspresi jengkel Kinar yang lucu membuatnya tidak bisa menahan tawanya.
Kinar manyun, kesal dengan kehadiran Fayaz yang kali ini sukses membuat kuncup bahagia di hatinya layu dengan kalimat-kalimat menyebalkan dari mulut embernya yang usil.
Fayaz mencubit pipi Kinar. “Eh jelek gitu aja ngambek. Cemen lo.”
Kinar diam, tidak memberi respon.
“Yaelah Ki lo kayak baru kenal gue aja. Elo kan udah sering jadi korban keusilan gue.”
“Mulut lo perlu disekolahin supaya gak bikin gue marah lagi.”
“Tiap hari mulut gue juga ikut sekolah kok. Masa gue ke sekolah tanpa mulut sih?” Fayaz mulai jayus.
“Gak lucu deh Fay. Udah deh kapan sih gue bisa tahan ngambek ama lo? Fay harusnya lo bersyukur diberi sahabat yang pemaaf, sabar dan berjiwa besar kayak gue.”
Fayaz nyengir. “Kok elo jadi narsis juga kayak gue? Heheheh”
“Hey guys! Waaaah pagi-pagi udah ngumpul bareng nih.” Suara Nadine tiba-tiba terdengar. Kinar dan Fayaz kompak menengok ke arah Nadine yang berdiri di depan pagar.
“Eh Nadine, sini-sini masuk. Gabung bareng kita.”
Nadine ikut bergabung bersama Kinar dan Fayaz. “Kalian kompak banget sih. Sepagi ini aja udah berduaan.”
“Iya doong. Sebagai sahabat yang baik gue pastinya selalu berusaha menjaga kekompakan dengan sobat tersayang gue ini.” tukas Fayaz sambil merangkul Kinar.
Kinar menatap Fayaz dengan satu alis terangkat. Hah? Menjaga kekompakan? Gue gak salah dengar? Jelas-jelas si biang narsis ini baru bikin gue kesal dengan bacot rebeknya. Itu yang namanya menjaga kekompakan? Dasar aneh!
“Lo dari mana Nad? Jogging?”
“Eh? Enggak, tadi gue ikutan nyokap senam pagi di lapangan. Lumayanlah buat seru-seruan.”
“Lo ikutan senam pagi yang bareng ibu-ibu itu?” Fayaz bertanya
Nadine mengangguk. “Iya. Seru loh. Ibu-ibu yang ikutan semuanya semangat 45 banget, gue aja sampai kecapekan ngikutin mereka.”
“Nad, Fay, kalian berdua belum pada sarapan kan? Mau gue buatin roti bakar dan susu cokelat?”
“Mau dooong. Roti bakarnya 2 porsi ya!” Fayaz gak tau diri
“Boleh-boleh. Gak merepotkan kan?” Nadine malu-malu mau.
Kinar bangkit dari kursi. “Gue buatin dulu ya, kalian tunggu di sini.” Kinar masuk ke rumah, meninggalkan Fayaz dan Nadine berdua.
Fayaz melirik Nadine yang tepat duduk dihadapannya. Pagi ini Nadine tampil cute-sporty dengan pink shirt bergambar Donald Duck dipadu dengan celana olahraga warna ungu. Hmm lucu juga!
“Elo baru selesai jogging Fay?” Nadine berinisiatif memulai percakapan.
“He-eh. Biasalah cowok sporty kayak gue pastinya butuh olahraga rutin untuk menjaga tubuh atletis gue ini.” Sikap narsis Fayaz mulai kumat.
Nadine tertawa. “Fay, Fay. Narsis kok dipelihara sih?”
“Abis gue mau pelihara apalagi? Cuma kenarsisan gue yang bisa gue pelihara dan gue budidayakan.”
Tawa Nadine makin keras, detak jantungnya juga kian memburu seiring dengan komunikasi yang terjalin dengan prince charmingnya ini. “Dodol banget sih. Btw sekarang lo gak pernah perform di Jazztix lagi ya?”
“Jazztix? Eh kok lo tau?”
“Tau dong. Beberapa kali gue sempat nonton elo main piano di sana. Gue suka deh dengan permainan piano yang lo bawain. Dan gue cukup kecewa begitu tau kalo elo udah gak perform di Jazztix lagi.”
“Wow! Thanks kalo lo suka. Gue memang keluar dari Jazztix dan posisi gue sebagai pianis di sana udah diganti orang lain. Gue bosan dan capek kerja di sana, mungkin nanti kalo kebosanan gue udah hilang gue akan main di sana lagi.”
Jazztix adalah sebuah cafe & music lounge bagi para pecinta musik jazz yang berlokasi di daerah Senayan. Selama 10 bulan Fayaz menjadi pianis di sana dan tampil tiap Jumat malam. Awalnya Fayaz senang dan enjoy bekerja di cafe milik Ardhya Dewandanu –adik sulung papa- ini. Tapi lambat laun Fayaz bosan dan akhirnya memutuskan untuk keluar.
Nadine tak henti-hentinya tersenyum. Pagi ini ia bahagia sekali. Tanpa Nadine duga, sekarang ia dan Fayaz duduk berhadap-hadapan dan berbincang di suasana pagi yang cerah. Nadina makin bahagia begitu menyadari wajah Fayaz berjarak begitu dekat darinya, membuatnya puas menatap lekat kegantengan Fayaz yang gak pernah luntur.
Fayaz mencoba menahan dirinya -menahan matanya- yang sedari tadi ingin memperhatikan Nadine dengan lebih cermat, mengagumi penampilan gadis ini yang selalu berkilau. Damn! T-shirtnya Nadine ketat banget. Astagfirullah.
“Lo kenapa Fay? Kok keliatannya gelisah gitu?”
Nadine membuyarkan Fayaz yang tengah sibuk dengan imajinasi nakalnya. “Gak papa kok Nad. Duh lo tuh seksi banget sih.”
“Hah?” Nadine bengong
Fayaz gelagapan. Sial! kok gue bisa keceplosan sih? “Ehm maksud gue, donald duck di t-shirts lo itu seksi banget.”
“Hah? Donald duck seksi?” Nadine bingung.
Fayaz makin gelagapan. Arrrrrgh gue kenapa sih? “Hehehehe bukan-bukan. Yang seksi itu elo, bukan donald duck.”
“Gue seksi?” Nadine terlihat surprised.
“Ya. Elo seksi.” Fayaz berkata sambil tersenyum. Udahlah Fay, udah terlanjur gini. Sekalian ajalah blak-blakan.
“Kok tiba-tiba lo bilang gue seksi sih?” Nadine memancing, ingin tau lebih banyak lagi sosok dirinya di mata Fayaz.
Fayaz garuk-garuk kepala, bingung sepenuh jiwa. “Gue salah ngomong ya? Gue bilang begitu karena lo memang seksi, cantik pula. Intinya lo menarik.” Fayaz berusaha jujur.
Kuncup-kuncup bahagia tumbuh di hati Nadine begitu mendengar jawaban Fayaz itu. Hmm.. Fayaz udah mulai flirting! Mudah-mudahan aja Fayaz suka gue.
Nadine mengunci pandangannya ke Fayaz. Mengagumi lekuk kesempurnaan prince charmingnya ini. Matanya langsung segar seketika dengan ‘pemandangan nikmat’ dihadapannya.
Fayaz salah tingkah, merasa tidak nyaman dengan tatapan Nadine yang seakan menelanjangi dirinya.
***
Makan malam romantis bukan lagi impian bagi Kinar
Di malam yang sangat indah ini, salah satu impian kecil Kinar berhasil diwujudkan Aira. Pangeran pujaan Kinar itu malam ini mengajaknya dinner di Scuzza, sebuah restoran bergaya klasik Romawi yang berlokasi di bilangan Senopati. Aira menyiapkan romantic dinner lengkap dengan lilin-lilin yang membuat suasana semakin hangat dan iringan musik klasik yang memabukkan. Perfecto!
Aira menyunggingkan senyum. Ia bahagia melihat cahaya keceriaan di wajah Kinar. “Kamu senyum-senyum terus dari tadi. Ada apa sih?”
“Aku bahagia banget malam ini. Mas, ini candle light dinner pertamaku loh.”
“Kamu serius? Masa sih sebelumnya gak pernah? Gak mungkin dong cewek secantik kamu belum pernah diajak dinner.”
“Beneran. Ini yang pertama, sebelumnya aku gak pernah makan di tempat seformal ini. Aku juga gak terbiasa dengan suasana romantis seperti ini.”
Senyum Aira makin lebar begitu mendengar pengakuan jujur Kinar itu. “Babe sama pacarmu yang dulu kamu gak pernah dinner? Memangnya dulu kamu pacarannya keman aja sih?”
“Kemana ya? Hihihi 2 mantanku bukan cowok romantis sih. Makanya selama pacaran gak pernah ada dinner kayak gini. Dulu sih biasanya aku pergi jalan-jalan ke tempat-tempat yang sama sekali gak romantis. Pergi ke Ancol, ke Monas, nonton di TIM, makan roti bakar Edi, borong buku di Kwitang. Seru ya?”
“Kamu baru 2 kali pacaran?”
Kinar mengangguk. “Iya. Aku memang gak punya banyak pengalaman dengan cowok. Makanya status jomblo aku ini belum juga selesai hehehhe.”
Aira menggenggam tangan Kinar, menautkan jemari tangannya dengan jemari Kinar. “Loh? kata siapa kamu jomblo. Sekarang kan kamu udah punya pacar baru.”
“Pacar?” Kinar murni tidak mengerti.
“Aku ini siapa kamu babe?” Aira bertanya dengan suara lembut yang setengah berbisik, membuat Kinar panas dingin.
Loh kok jadi gini? Walau gue cinta mati sama Aira, status gue dan dia kan belum jelas. Aira memang sering memanggil Kinar dengan sebutan-sebutan khas orang yang telah berpacaran. Aira juga sudah sering bilang sayang ke Kinar. Tapi kan Aira belum nembak gue. Jadi sebenarnya Aira itu statusnya apa?
“Aku ini siapanya Mas Aira?” Kinar bertanya balik.
Aira tersenyum lembut sekali, dikecupnya punggung tangan Kinar lembut. “Kamu itu orang yang paling aku sayang. Kamu itu bidadari aku. Kamu itu gadisku. Kamu itu pacar aku.”
“Aku pacar Mas Aira?”
“Iya. Kenapa? Kamu pasti bingung ya karena aku gak nembak kamu? Say buatku kasih sayang aku ini gak perlu dibuktikan dengan acara penembakan segala. Yang terpenting aku sayang kamu. Kamu juga sayang aku kan?”
Jadi gue dan Aira udah pacaran? Kinar sedikit bingung dengan situasi ini. Sebelumnya dengan Enrico dan Bima proses pacaran Kinar selalu diawali dengan prosesi penembakan. Tapi sekarang Aira malah sudah menganggap Kinar sebagai pacarnya tanpa ada penembakan lebih dulu.
“Iya. Aku juga sayang Mas Aira.” Kinar membalas tatapan lembut Aira dengan senyuman termanisnya.
Yang terpenting Aira sayang gue. Penembakan kan cuma simbol. Akhirnya kita jadian juga, penantian panjang gue akhirnya berujung malam ini.
“Beruntungnya aku bisa jadi pacar kamu.”
“Beruntung?”
Aira mengangguk. “Kamu itu beda dari cewek-cewek lain. Kamu smart, dewasa, mandiri. Intinya kamu sangat istimewa dan aku bersyukur bisa punya pacar yang hebat seperti kamu.”
“Gombal ah.”
Aira tertawa. “Loh kok gombal sih? Itu beneran loh. Kamu itu bidadari aku dan aku akan berusaha menjadi pangeran yang baik buat kamu.”
“Aku juga akan menjadi bidadari yang baik buat Mas Aira.”
***
Fayaz tersenyum. Untuk kedua kalinya ia membaca sms yangbaru dikirim Kinar. Di pesan singkat itu Kinar mengabarkan bahwa malam ini ia telah resmi berpacaran dengan Aira. .Arrrrgghh Kinar akhirnya punya pacar baru. Giliran gue kapan?
Fayaz menelfon Kinar, berharap sahabatnya ini bisa sedikit menularkan kebahagiannya.
Kinar : Hei Fay. Wazzup?
Fayaz : Tau deh yang baru jadian. Suaranya jadi sok manis gini.
Kinar : Oh iya dooong hehhe. Eh lo lagi dimana Fay
Fayaz : Di mobil. Dari tadi muter-muterin Jakarta, gak tau mau kemana. Lo masih bareng Aira?
Kinar : Iya masih. Eh Fay, Aira kirim salam.
Fayaz : Gue gak butuh kiriman salam. Gue butuhnya kiriman duit.
Kinar : Dudul ah. Geblek lo.
Fayaz : Eh yasuwdlah selamat bersenang-senang dengan pacar lo itu. Besok lo harus kasih gue PJ (pajak jadian). Hahaha besok gue akan bikin lo bangkrut Ki.
Kinar : Monyong lo! Hati-hati yah. Nyetirnya pelan-pelan. Jangan lupa pake sit bealt.
Fayaz menutup telfon, matanya kembali lurus ke arah jalan. Malam ini Fayaz seperti orang linglung. Sejak tadi ia cuma muter-muter mengelilingi jalan dengan Audi kesayangannya tanpa ada tujuan yang jelas. Kebingungan Fayaz malam ini dikarenakan malam ini tiba-tiba aja Fayaz kangen bermalam mingguan. Ia mau pacaran lagi. Ia kangen menghabiskan malam minggu bersama seorang gadis yang menjadi pacarnya.
Fayaz menepikan mobilnya. Ia kembali serius dengan ponselnya, mencari sebuah nama yangmungkin bisa membuatnya tidak lagi bingung dan linglung. Pencarian Fayaz berhenti di 1 nama : Nadine
Ragu-ragu akhirnya Fayaz menelfon Nadine.
Fayaz : Bonjour!
Nadine : Fayaz? Hei bonjour monsieur
Fayaz : Gue ganggu ya? Lagi dimana Nad?
Nadine : Enggak kok. Gue lagi di Pratz, nyari novel. Lo?
Fayaz : Gue lagi di jalan, bingung mau kemana. Lo ama siapa di sana?
Nadine : Sendirian
Fayaz : Boleh gue temenin gak?
Nadine : Eh? Sure lo ke sini aja
Fayaz : Okey. Setengah jam lagi gue sampai di sana. See ya!
Setelah menutup telfon Fayaz cepat memacu mobilnya ke Pratz Books. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis.
***
@ Pratz
“Lo suka baca beginian juga?” Fayaz memperhatikan hasil belanja Nadine di Pratz kali ini. 3 novel teenlit, majalah Teen Vouge terbaru dan beberapa buah pulpen warna-warni. Bagi Fayaz 3 novel yang dibeli Nadine adalah bacaan gak penting dengan cerita yang terlalu menya-menye.
Nadine menganguk seraya tersenyum. “Iya. Kenapa? Bacaan gue cemen banget ya?”
Fayaz ikut tersenyum. “Gak kok. Cewek-cewek kan memang suka baca teenlit. Kinar dan Ririe juga sering baca kok.”
Fayaz memilih untuk berbicara aman. Untuk kali ini ia berusaha menjaga mulut bawelnya agar tidak mengeluarkan kata-kata usil. Dan untuk kali ini juga, Fayaz ingin terlihat sebagai cowok yang oke di mata Nadine. Cukuplah cuma di depan Kinar Fayaz hadir sebagai sosok cowok slengean dengan image pecicilan.
Malam ini akhirnya Fayaz mengakhiri kebingungannya dengan mengarahkan mobilnya ke daerah Pondok Indah, lebih tepatnya lagi ke Pratz, menyusul Nadine yang malam ini menghabiskan waktunya untuk membeli bacaan baru sebagai tambahan koleksi perpustakaan mini di rumahnya. Setelah tadi menemani Nadine memilih buku, kini Fayaz dan Nadine duduk bareng di Pratz Coffe, coffe shop mungil yang juga terletak di gedung Pratz Books. Mereka berdua mengobrol santai dengan ditemani Ice Chocolate dan Tiramisu andalan Pratz Coffe.
“Fay angin apa yang membawa lo ke sini?” Nadine menatap Fayaz penuh selidik. Sejujurnya ia penasaran sekali, motif apa yang membuat Fayaz malam ini ‘berani’ menghampirinya di Pratz. Buat apa Fayaz ke sini? Apa dia mulai tertarik dengan gue?
Fayaz menyeruput Ice Chocolatenya. Masa sih gue harus ngaku kalo gue kebingungan karena gak punya pacar sampai akhirnya nyasar ke sini? Gila aja kalo gue ngomong begitu! “Angin apa ya? Mungkin angin mala untuk lelaki kesepian ahahaha.”
“Lelaki kesepian? Memangnya elo kesepian?”
Shoot! Gue salah ngomong. “Menurut lo gimana?” Fayaz cari aman dengan balik bertanya.
“Alah palingan elo kesepian karena gak punya pacar. Ya kan?”
Anjrit! Jangan-jangan Nadine punya bakat jadi cenayang? Kok tebakannya bisa pas gitu sih? “Yeah begitulah nasip jadi jomblo.”
Nadine nyengir, ia senang dengan kejujuran Fayaz. “Samalah kayak gue. Selalu sepi sendiri di malam minggu. Gue tau jarang orang yang pacaran di toko buku, makanya gue ke sini karena gue yakin di sini gue gak akan iri melihat orang-orang yang lagi pacaran hehehe.”
Fayaz tergelak, tidak menyangka dengan ucapan natural Nadine itu. Nih cewek kok semakin menyilaukan ya? Kalo gini ceritanya gue bakalan jatuh cinta nih! Wajar banget kalo gue kepincut dengan cewek seoke Nadine.
Fayaz tidak menampik, fisik nadine yang oke memang begitu terlihat menarik di matanya. Tapi ia menjadi lebih tertarik dengan kepribadian Nadine yang ternyata tidak kalah oke menawan dengan fisiknya.
Sejak dulu Fayaz memang selalu sukses menggaet cewek-cewek cantik untuk menjadi pacarnya. Tapi berdasarkan pengalaman pribadinya dengan 4 gadis cantik yang pernah dipacarinya, gak semua gadis bermuka cantik dan terlihat mempesona memiliki tabiat yang juga baik. Kadang kecantikan fisiknya tidak dibarengi dengan kecantikan sifat dan prilakunya.
Sekarang Fayaz ingin mencoba –menantang dirinya- untuk mencari cewek dengan paduan fisik dan sikap yang sama-sama cantik. Dan sepertinya Nadine layak menjadi salah satu kandidatnya.
“Fay, Kinar jadi ngedate ama Aira?”
“Jadi. Eh mereka baru aja jadian tuh.” Fayaz berkata datar. Ia masih gak rela Kinar ‘melangkahi’ dirinya dan lebih dulu punya pacar baru.
Nadine surprised mendengar kabar bahagia ini. “Wow senangnya Kinar udah punya pacar baru. Elo kenal cowoknya Kinar gak? Orangnya gimana sih? Katanya Kinar Aira itu super duper ganteng.”
Fayaz mengerang. “Aaah Kinar hiperbola banget. Aira tuh gak segitu gantengnya kok. Tampang dan gayanya khas cowok-cowok metroseksual yang selalu tampil dandy. Gue gak mengenal baik sosok Aira, kalo boleh jujur sih gue gak terlalu suka ama Aira, gue gak nyambung ngomong ama cowok sejenis Aira.”
“Cowok sejenis Aira? Maksudnya?”
“Cowok-cowok sok romantis yang selalu gombal dengan ngomong manis dan ngirimin cewek bunga. Gue heran kok bisa-bisanya Kinar jadian sama Aira, padahal Kinar pernah bilang kalo dia gak suka cowok romantis.”
Nadine tersenyum. “Udahlah Fay mungkin emang udah jalannya Kinar dan Aira jadian. Mudah-mudahan aja Aira bisa jadi pacar yang baik buat Kinar.”
“I hope so.”
Nadine menyendok tiramisunya. Mata cokelatnya sesekali melirik ke arah Fayaz. Paket wajah ganteng mirip Alex Pettyfer, sikap slengean dengan image bad boy yang seksi dan senyum maut yang begitu memikat membuat sosok Fayaz terlihat sangat menarik. Fakta bahwa Fayaz jomblo dan sedang mencari pacar membuat Nadine kian gencar menebarkan pesona demi untuk memikatnya. Terlebih Kinar sudah memberi Nadiine ‘daftar riwayat hidup’ Fayaz yang berisikan profil Fayaz lengkap dengan hobi, hal-hal favorit, kisah cinta dengan 4 mantan pacarnya dan juga tipe cewek yang disuka. Komplet deh pokoknya!
“Nad abis sini mau kemana?”
Nadine mengangkat bahu. “Belum tau. Belum ada planning.”
“Mau nonton gak?”
Wow kayaknya prospek hubungan gue dan Fayaz bakalan bagus nih. “Boleh-boleh tapi lo yang bayarin. Gimana?”
Fayaz nyengir. “Iya-iya. Apa sih yang gak gue kasih buat lo? Heheheh.”
***
